RADAR JOGJA – Dampak penutupan permanen Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mulai dirasakan. Baik di Kota Jogja, Sleman dan Bantul. Bahkan di tiap sudut tiga daerah tersebut marak spanduk larangan membuang sampah. Komplet dengan ancaman hukumannya. Ironisnya justru di depan spanduk itulah tumpukan sampah dibuang.
Di Bantul, tumpukan sampah yang terjadi di Jalan Imogiri-Panggang, Selopamioro, Imogiri, Bantul masih dibiarkan dan belum diangkut. Itu lantaran kesepakatan dari warga agar mencari dahulu sosok pembuangnya. Lantas kalau sudah diketahui yang membuangnya tersebut akan disuruh mengangkut kembali sampahnya sebagai sanksi sosial.
Lurah Selopamioro Sugeng mengatakan, itu sudah menjadi kesepakatan antar warga dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul. Awalnya memang rencananya Rabu (8/5) untuk diangkut oleh DLH Bantul. Namun karena ada kesepakatan tersebut akhirnya diurungkan ditunggu sampai sosok pembuangnya ditemukan. "DLH mau ambil nah tetapi masih mencari indikasi yang membuang sampah di lokasi," katanya, Rabu (8/5/2024).
Dia membenarkan, kalau keputusan tersebut merupakan kesepakatan dari warga masyarakat. Oleh karena itu, kondisi sampah masih menggunung seperti Selasa (7/5).
Menurutnya, sanksi sosial mengangkut sampah kembali diharapkan sebagai upaya efek jera. Dengan begitu, kejadian serupa tidak terulang kembali. Selain itu, juga sebagai bentuk pertanggung jawaban yang membuangnya.
Sugeng membeberkan, truk sampah yang membuangnya terekam kamera CCTV yang berada di sekitar lokasi. Tetapi, itu hanya mampu mengidentifikasi warna truk berwarna kuning dan terdapat terpal di atas bak truknya. "Masih dalam pencarian semoga mudah-mudahan segera ketemu," ungkapnya.
Menurutnya, dari pengamatan sementara pembuangnya bukan dari wilayah Imogiri. Namun, sayangnya, dari rekaman CCTV pelat nomornya tidak terlihat. Apalagi sosok pengemudinya sama sekali tidak terlihat karena CCTVnya hanya terbatas di satu titik saja di SMPN 3 Imogiri.
Sugeng menuturkan, pencarian sosok pembuangnya hanya diestimasi tiga hari pasca-ditemukannya tumpukan sampah tersebut. "Kalau sudah tiga hari nanti diangkut DLH atau juga rembugan lagi," bebernya.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih angkat bicara terkait tumpukan sampah tersebut.
Menurutnya, alasan apapun tidak dibenarkan membuang sampah seperti yang terjadi di Imogiri, Bantul. Itu karena banyak kelompok masyarakat atau UMKM yang menawarkan jasa untuk memungut sampah rumah tangga dengan membayarkan tarifnya.
Dia mengaku, sekarang sedang mengebut pembangunan tiga TPST yakni Dingkikan, Modalan dan Bawuran. Bahkan, pengerjaannya sampai dilembur.
Dari ketiganya nanti dapat menampung sampah sebanyak 150 ton. "Kalaupun hari ini masih ada kekurangan-kekurangan harap dimaklumi pembuangan sampah liar itu tidak boleh terjadi," ucapnya.
Dia menyarankan agar sampaikan saja ke DLH Bantul kalau memang kesulitan membuang sampah. Nanti akan diarahkan ke para penyedia jasa yang mengelola sampah.
Sedang di kawasan perkotaan Bumi Sembada pun jadi sasaran lokasi pembuangan sampah liar. Kepala DLH Sleman Epiphana Kristyani mengatakan, sedikitnya ada 14 titik lokasi yang kerap dijadikan masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah liar. Mayoritas lokasinya berada di kawasan perkotaan.
“Lokasi pembuangan sampah liar ada Ringroad lalu di Jombor, dan banyak lagi. Kami catat ada 14 titik, mayoritas perkotaan namun satu titik ada di pedesaan,” ujar Epiphana, Selasa (7/5).
Epiphana mengaku, pihaknya sudah berupaya agar sampah-sampah liar itu dapat tertangani. Langkahnya dilakukan dengan pengangkutan sampah secara rutin sepekan sekali. Meskipun demikian, dia berharap agar ada kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Mantan Sekretaris Dinas Sosial itu menyebut, ada banyak cara untuk mengolah sampah rumah tangga. Contohnya untuk sampah organik dapat diolah menjadi pakan ternak atau pupuk kompos. Sementara sampah anorganik dapat dikumpulkan untuk didaur ulang.
Lebih lanjut, dia juga memastikan, kalau DLH terus berupaya memaksimalkan TPST Tamanmartani dan TPST Minggir. Termasuk meminta seluruh ASN Pemkab Sleman agar membuat biopori agar sampah dapat terkelola dengan baik.
Menurut Epiphana, hal tersebut penting karena produksi sampah di Sleman mencapai 230 ton. Namun dari jumlah itu masih ada 111 ton sampah yang belum terkelola.“Intinya kami minta partisipasi masyarakat,” tegas Epiphana.
Sebelumnya Ketua Komisi C DPRD Sleman Rahayu Widi Nuryani mendorong agar Pemkab Sleman mengoptimalkan operasional TPST Minggir. Agar harapannya sampah di Bumi Sembada bisa terkelola dengan baik.
“Untuk akses jalan menuju TPST yang menjadi kendala harapan kami segera bisa diselesaikan juga,” ucap Rahayu belum lama ini. (inu/rul/eno/pra)
Editor : Satria Pradika