JOGJA - Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja Hardi Santosa mengatakan sekolah di Jepang banyak yang menerapkan tidur siang bagi anak sekolah dini.
Tidur siang dengan durasi tertentu memiliki banyak manfaat. Di antaranya, mengembalikan konsentrasi dan stamina.
"Di beberapa sekolah maju itu, misal di Jepang, ada pelajaran tidur siang untuk anak-anak level kelas bawah misal kelas 1 dan 2," ujarnya, Kamis (21/9/2023).
"Bahkan sebenarnya untuk SD masih bisa, karena anak perlu istirahat cukup, jadi jangan sampai kelelahan menerima pelajaran dan sampai jangka panjang anak bisa tanda petik bosen sekolah dan jenuh," lanjutnya.
Metode ini bisa diterapkan pada lima hari sekolah. Karena durasi sekolah menjadi sangat panjang, dari pagi hingga sore.
Menurutnya, sekolah lima hari seminggu memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Sehingga sekolah sebaiknya memang harus bisa menyesuaikan.
"Desain kurikulum harus fun learning dan tetap bermakna, bahasanya, menggembirakan dan bermakna ya," imbuhnya.
Konsep Fun learning digarisbawahi karena durasi belajar panjang berisiko kejenuhan dan kelelahan siswa. Sekolah juga bisa menerapkan project based dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
"Yang penting anak terlibat, keterlibatan siswa di setiap kegiatan penting. Maaf, tidak hanya diberi tugas lalu guru sibuk dengan urusannya sendiri," imbuhnya.
Di sisi lain, sekolah lima hari berdampak positif bagi pembentukan kebiasaan siswa. Dan anak bisa terkondisi dengan baik. Dalam hal ini, komite sekolah juga dilibatkan untuk kegiatan yang akan dilakukan.
"Misalnya, ketika anak pulang cepat dan orangtuanya sibuk, tidak terawasi kan bisa mengakses HP atau main yang tidak terkontrol dan no edukatif," ujarnya.
"Tapi ketika dilakukan di sekolah maka ada program yang didesain secara terstruktur dan tujuan jelas. Perlu didukung orangtua," imbuhnya. (lan)
Editor : Amin Surachmad