RADAR JOGJA - Penetapan kawasan sumbu filosofi Jogja sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO, membawa konsekuensi. Termasuk terhadap warga njeron beteng. Sebab margi hinggil atau benteng keraton harus kembali ke bentuk awal. Sesuai rekomendasi UNESCO.
Otomatis, bangunan atau rumah ngindung warga di sekitar benteng harus dirobohkan untuk keperluan pengembalian ke fasad awal. Upaya ini sudah dilakukan di beberapa titik akan berlanjut hingga 2024 mendatang.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, akan melaksanakan rekomendasi yang ada sebagai salah satu konsekuensi dari penetapan kawasan sumbu filosofi Jogja. "Catatan yang sudah pasti disampaikan pada kami, misalnya benteng harus kembali. Kami sudah membangun kembali," katanya di Kompleks Kepatihan Selasa (19/9).
HB X menjelaskan tahapan pembangunan fisik beteng sudah berjalan saat ini. Namun, akan bertahap untuk selesai proses pengosongan njeron beteng untuk penyelesaian kesepakatan dengan masyarakat bagian dalam beteng hingga 2024 mendatang. "Ini salah satu catatan-catatan yang mungkin nanti secara resmi jadi rekomendasi dengan diterimanya sumbu filosofi jadi bagian dari dunia itu," ujarnya.
Bagaimana jika warga khawatir digusur? Raja Keraton itu menyebut, pada prinsipnya konsekuensi ini bukan untuk menggusur masyarakat atau memindah dengan seenaknya. Melainkan untuk mensejahterakan masyarakat. Terlebih, dengan bebungah yang diberikan dari Pemprov DIJ. Sehingga masyarakat bisa memiliki tempat yang lebih nyaman dan legal.
"Tergusur itu asal beli tanahnya bukan maunya sendiri tapi mensejahterakan masyarakat bisa punya rumah lebih besar kan nggak ada masalah,” tuturnya.
Dia mencontohkan seperti dalam pembebasan lahan untuk. Menurut dia, yang penting masyarakat tidak makin miskin setelah dipindah. Tapi makin sejahtera setelah dipindah. “Itu kan nggak mungkin pada nggak mau (dipindah),seperti tol kan juga begitu" sambungnya.
Ayah lima puteri itu berharap, semua pihak bisa menjaga keberlangsungan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia. Sebab UNESCO akan terus melakukan evaluasi predikat warisan budaya tak benda tersebut secara berkala. "Tentu saja kami harus konsisten menerapkan rekomendasi-rekomendasi yang nanti jadi catatan dari UNESCO untuk memenuhi standar yang setiap periodik harus dilaporkan," tambahnya.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana memastikan akan ada kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara ke DIJ usai penetapan ini. Huda menjelaskan wisatawan mancanegara akan merasa penasaran dengan penetapan ini. Maka dimungkinkan ada ketertarikan untuk mengetahui secara langsung seperti apa warisan dunia yang ditetapkan di Jogjakarta ini. Terlebih, kawasan dari Panggung Krapyak hingga Tugu Jogja itu penuh dengan filosofi. "Ini nggak mudah dan saya harap ini akan ada kunjungan wisatawan dari berbagai negara dan dari dalam negeri yang cukup banyak setelah peristiwa ini," ujarnya.
Menurut politisi PKS itu penetapan ini sebagai satu langkah pasti semacam aksioma atau pernyataan yang dianggap benar tanpa memerlukan bukti atau penjelasan lebih lanjut. Huda menyebut imbas selanjutnya adalah bagi sektor ekonomi pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Jogja dipastikan akan sangat besar.
Penetapan ini juga bukan perkara mudah. Apalagi India sempat dikomplain banyak Negara. Tapi untuk Indonesia yang diwakili sumbu filosofi tidak ada komplain "Ini menunjukkan kualitas dari sumbu filosofi ini sudah diakui betul oleh dunia," terangnya. (wia/pra)
Editor : Satria Pradika