RADAR JOGJA - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengungkapkan pihaknya tak terlalu merasakan dampak yang signifikan atas ditutupnya TPA Piyungan beberapa hari terakhir. Hal ini lantaran 489 anggota PHRI DIY telah menerapkan prosedur pengelolaan sampah.
Deddy menuturkan ini telah menjadi SOP bagi anggota PHRI DIY. Misalnya, sampah organik diberikan pada pihak-pihak yang membutuhkan. Biasanya kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Sementara sampah anorganik diberikan kepada bank-bank sampah yang berlokasi di sekitar hotel atau resto.
"Betul-betul itu menjadi bagian dari SOP hotel dan ini menjadi pemasukan bagi masyarakat sekitar dari hotel-hotel kita," kata Deddy saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (1/8).
Deddy menambahkan, pihaknya turut melakukan pendataan dengan cara mengirim kuisioner. Terkait cara atau prosedur hotel dan resto dalam mengelola sampahnya. Hasilnya, hampir semuanya sudah melakukan pemilahan sampah. PHRI DIY juga turut menurunkan satgas untuk memastikan keakuratan hasil data kuisioner.
"Untuk memantau anggota kami supaya memastikan betul tidak data yang kami minta itu, valid tidak pengelolaan sampahnya. Kami sudah dibimbing oleh DLH DIY dan DLH kabupaten kota," ujarnya.
Untuk menanamkan edukasi kepada masyarakat, anggota PHRI DIY juga memberikan diskon bagi pelanggan yang membawa tempat dan alat makan sendiri. Bahkan, diskon yang diberikan bisa mencapai 20 persen. Meski demikian, baginya itu bukanlah hal yang berat. Walau memberi potongan harga, tetapi sejatinya pihak resto juga tak mengeluarkan biaya kemasan.
"Ini menjadi edukasi masyarakat yang jajan di resto anggota PHRI," katanya.
Sementara itu, salah satu pemilik restoran mi di Gondomanan, Kota Jogja, Aditya Julianto Kurniawan mengaku selama ini telah mengelola sampahnya. Bahkan, dia mengupayakan tak ada sampah yang tersisa, meski pada praktiknya itu masih sulit dilakukan. Adi, sapaannya, telah memiliki relasi yang bersedia mengambil sampah-sampah organiknya setiap hari. Begitu juga untuk sampah anorganik yang setiap hari diambil oleh pengepul.
"Untuk sisa-sisa minyak juga sudah ada yang ambil, lumayan walaupun belum bisa 100 persen," kata Adi.
Sampah yang telah dikelola dengan baik menjadikan Adi tak terlalu keberatan saat TPA Piyungan ditutup. Namun, sedikit banyak dia juga merasakan dampaknya. Hal ini lantaran lokasi warung miliknya yang berseberangan langsung dengan TPS.
"Kalau TPA Piyungan tutup biasanya TPS menumpuk. Ini bisa menimbulkan bau dan lalat. Khawatirnya menganggu kenyamanan pelanggan," ungkapnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad