Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cairan Mylanta Disebut Semprotan Merica, Sema UGM Desak Polda DIY Ralat dan Minta Maaf

CA

Advertisement

 

Anggota tim medis massa aksi damai Cik Di Tiro menunjukkan tabung bekas cairan antasida atau obat maag di kawasan Boulevard UGM, Kamis (3/9). Mereka mendesak Polda DIJ meralat klaim dan meminta maaf secara terbuka atas penyebutan larutan obat maag milik tim medis sebagai semprotan merica. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Anggota tim medis massa aksi damai Cik Di Tiro menunjukkan tabung bekas cairan antasida atau obat maag di kawasan Boulevard UGM, Kamis (3/9). Mereka mendesak Polda DIJ meralat klaim dan meminta maaf secara terbuka atas penyebutan larutan obat maag milik tim medis sebagai semprotan merica. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

Advertisement

JOGJA - Serikat Mahasiswa (Sema) UGM menyayangkan klaim Polda DIJ yang menyebut Mylanta milik tim medis sebagai semprotan merica di akun Instagram resminya. Sema menegaskan tim medis yang turun ke jalan bukan membawa senjata untuk menyerang, melainkan membawa obat-obatan untuk merawat kemanusiaan yang terluka. 

"Sangat menggelikan, sekaligus memprihatinkan," ujar Ketua Umum Sema UGM Mesa Syafitra saat ditanya tanggapannya Kamis (3/9).

Advertisement

Dia menyayangkan pada saat institusi keamanan negara gagal membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh. Secara ilmiah dan pada praktiknya, cairan antasida seperti Mylanta yang dilarutkan air adalah protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata. 

Sifat basanya membantu menetralkan efek asam korosif dari senyawa kimia gas air mata. Menurut Mesa, menuduh obat maag sebagai semprotan merica adalah bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan kemanusiaan. "Atau yang lebih buruk adalah upaya menjustifikasi tindakan represif di lapangan," tuturnya. 

Dia menilai jika penawar rasa sakit dianggap sebagai ancaman, sama saja akal sehat publik sedang coba dikaburkan. Pihaknya menuntut Polda DIJ harus bertanggungjawab secara hukum atas narasi publik yang diunggah. 

Dikatakan, sebagai penegak hukum yang dibekali oleh negara dengan instrumen intelijen, tim penyelidikan, dan infrastruktur verifikasi data yang lengkap, mengenai unggahan 'fakta lapangan' dari Polda DIJ seharusnya memiliki standar akurasi ilmiah dan integritas data yang kredibel. "Bukan justru memproduksi misinformasi yang menyesatkan akal sehat publik," tegasnya. 

Menurutnya, efek dari video itu sangat fatal di media sosial. Ketika klaim keliru bahwa Mylanta adalah semprotan merica disebarkan oleh akun centang biru milik kepolisian, video itu seketika menjadi alat legitimasi bagi netizen untuk membenarkan represif aparat dan menstigma tim medis kemanusiaan mahasiswa.  "Ini adalah bentuk pembingkaian opini yang berbahaya," tuturnya. 

Sema UGM menuntut Polda DIJ tidak hanya meralat klaim tersebut, tetapi juga meminta maaf secara terbuka kepada publik demi menjaga marwah kredibilitas kepolisian itu sendiri. "Hukum tidak boleh tajam ke bawah tetapi tumpul ke dalam lingkaran kekuasaan," katanya. 

Advertisement
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Klaim Mylanta sebagai Semprotan Merica, SEMA UGM Minta Polda DIY Ralat dan Minta Maaf pada Publik

Klaim Mylanta sebagai Semprotan Merica, SEMA UGM Minta Polda DIY Ralat dan Minta Maaf pada Publik

SEMA UGM menyayangkan klaim Polda DIY yang menyebut Mylanta milik tim medis sebagai semprotan merica di akun instagram resminya. SEMA UGM menegaskan tim medis yang turun ke jalan bukan membawa senjata untuk menyerang.

Harga Telur Anjlok Bukan Semata karena Pakan Mahal, Pengamat UGM Soroti Dinamika Oversupply

Harga Telur Anjlok Bukan Semata karena Pakan Mahal, Pengamat UGM Soroti Dinamika Oversupply

Anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak yang terjadi saat ini, tidak semata-mata disebabkan tingginya harga pakan. Persoalan yang lebih mendasar justru berada pada ketidakseimbangan antara produksi dan kemampuan..

Lawan Elitisme dan Fragmentasi, BEM UGM Resmi Berubah Nama Jadi Sema

Lawan Elitisme dan Fragmentasi, BEM UGM Resmi Berubah Nama Jadi Sema

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa (Sema) UGM. Deklarasi organisasi baru tersebut digelar di Bundaran UGM bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer