
SLEMAN - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa (Sema) UGM. Deklarasi organisasi baru tersebut digelar di Bundaran UGM bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila Senin (1/6).
Plt Ketua BEM UGM sekaligus Ketua Sema UGM 2026 Sheron Adam Funay menjelaskan, transformasi tersebut merupakan respons atas berbagai persoalan yang selama ini dinilai melekat pada organisasi mahasiswa. Termasuk elitisme dan fragmentasi gerakan di BEM.
Menurutnya, Sema UGM hadir dengan model organisasi yang berbeda dari BEM yang selama ini dikenal sebagai organisasi eksekutif mahasiswa tingkat universitas. "Sema itu bukan lagi sebagai badan eksekutif yang hierarkis, tetapi yang egaliter,” bebernya.
Sema, lanjutnya, menyetarakan kedudukan mahasiswa hingga tingkat fakultas. “Kami coba obati berbagai macam penyakit, terutama fragmentasi gerakan itu sendiri," ujar mahasiswa Fisipol UGM ini.
Baca Juga: Live Malam ini, Berikut Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Myanmar di Piala AFF U19 2026
Menurutnya, perubahan yang dilakukan bukan sekadar pergantian nama organisasi. Sebab terdapat perubahan mendasar dalam cara kerja dan posisi organisasi di lingkungan kampus.
Ia menjelaskan Sema tidak lagi mengklaim sebagai representasi tunggal seluruh mahasiswa UGM. Sebaliknya, organisasi tersebut hanya mewakili anggotanya sendiri dan menempatkan organisasi mahasiswa lain pada posisi yang setara.
"Suara mahasiswa UGM itu dimiliki oleh masing-masing, tidak dimiliki oleh BEM. Serikat Mahasiswa UGM kepentingannya untuk anggota saja, bukan untuk secara seutuhnya," katanya.
Baca Juga: Skuad Final Timnas Indonesia di FIFA Matchday Bulan Juni, Tanpa Thom Haye dan Kapten Jay Idzes
Selain itu, Sema UGM juga mengubah mekanisme regenerasi kepemimpinan. Jika sebelumnya BEM dipilih melalui Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), kini pemilihan dilakukan secara internal dengan basis meritokrasi, berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan prestasi.
Sheron menilai Pemilwa selama ini memiliki persoalan yang menyerupai dinamika politik nasional, mulai dari patronase hingga praktik-praktik politik yang tidak sehat. "Kita coba menjunjung tinggi meritokrasi dan kerja keras teman-teman, jadi mereka mendapat posisi strategis karena kemampuannya, bukan karena kemenangan politiknya," ungkapnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




