JOGJA - Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno mengungkapkan hubungan emosional yang kuat dengan klubnya selama beberapa tahun terakhir. Bagi perempuan yang akrab disapa Ci Liana itu, PSIM bukan sekadar tempat bekerja, melainkan memiliki makna yang sangat personal dalam hidupnya.
Secara pribadi, ia bahkan mengibaratkan hubungan dirinya dengan klub berjuluk Laskar Mataram itu seperti hubungan yang romantis. "Rasanya PSIM itu kayak kekasih pribadi saya. Saya take care ke PSIM dengan sepenuh hati," ujar Liana kepada Radar Jogja, Minggu (15/3).
Menurutnya, selama memimpin klub dan mendedikasikan dirinya kurang lebih tujuh tahun terakhir, ia senantiasa berusaha memberikan seluruh potensi terbaiknya demi perkembangan PSIM. "Saya mengeluarkan semua potensi saya di PSIM untuk berkarya.
Tapi sebaliknya, PSIM juga memberi banyak sekali memori dan kesempatan yang indah untuk saya," katanya.
Liana menilai perjalanan berliku yang ia jalani bersama PSIM juga membuka berbagai kesempatan penting dalam hidupnya, baik dalam karier maupun jejaring profesional.
"PSIM memberikan banyak sekali kesempatan yang luar biasa dalam hidup saya. Jadi itu seperti hubungan romantis antara saya dan PSIM," lanjutnya.
Di sisi lain, ia juga menyebut melalui PSIM dirinya dapat bertemu dengan berbagai tokoh penting serta menjalin hubungan dengan banyak pihak yang sebelumnya sulit dijangkau, atau tidak terpikirkan olehnya.
"Lewat PSIM saya bisa bertemu banyak orang luar biasa, orang-orang top yang mungkin sebelumnya sulit untuk saya temui," ujarnya.
Tak hanya itu, pengalaman bekerja di dunia sepak bola melalui PSIM juga membuka berbagai peluang lain bagi dirinya. Termasuk kesempatan pendidikan hingga keterlibatan dalam organisasi olahraga internasional.
"Kesempatan-kesempatan besar dalam hidup saya, termasuk beasiswa sampai bisa masuk ke organisasi olahraga internasional, itu juga karena PSIM," kata Liana.
Meski demikian, perjalanannya bersama PSIM tidak selalu berjalan mudah. Liana mengakui, saat klub masih berkompetisi di kasta kedua sepak bola nasional, tekanan dari suporter sempat membuatnya mengalami stres yang cukup berat.
"Waktu di Liga 2 itu, Jogja buat saya kota yang penuh tekanan. Saya sempat overstress karena tekanan suporter yang luar biasa," ungkapnya.
Namun situasi itu perlahan berubah setelah PSIM berhasil promosi ke kasta tertinggi kompetisi nasional musim ini. Menurutnya, atmosfer sepak bola di Jogja justru menjadi salah satu hal yang membuatnya semakin mencintai kota ini.
"Sekarang saya merasa Jogja itu kota yang menyenangkan. Buat sepak bola, Jogja memang kota bola menurut saya," ujarnya.
Di sis lain, Liana juga mengaku bangga bisa menjadi bagian dari klub yang berasal dari DIJ tersebut. Wilayah yang strategis dan memiliki nilai historis penting bagi Indonesia.
"Saya sangat bangga bekerja untuk DIY. Kita punya klub sepak bola yang historis di daerah yang sangat penting bagi Indonesia," sebutnya.
Hubungan panjang yang telah terjalin antara dirinya dan PSIM pun membuat Liana semakin yakin untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi klub kebanggaan masyarakat Jogjakarta itu.
"PSIM itu seperti kekasih saya. Saya sudah percaya bahwa PSIM akan selalu membawa hal baik dan positif bagi saya dan DIY," tutupnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun