RADAR JOGJA - Sleman Temple Run akan digelar Minggu (10/8) mendatang di Kompleks Candi Banyunibo. Agenda yang ke-10 ini diharapkan bisa memberi dampak positif pada ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid menjelaskan, Bumi Sembada memiliki kekayaan cagar budaya berupa candi. Untuk itu perlu terus dilestarikan. "Sleman Temple Run ini jadi usaha mengenalkan candi kepada masyarakat. Pesertanya lebih dari seribu orang," katanya.
Dia yakin, potensi wisata budaya yang dikolaborasikan ide sport tourism ini bisa memberikan pengalaman spesifik pada wisatawan. Apalagi akan ada berbagai kekayaan budaya milik kalurahan yang ditampilkan. Misalnya, pertunjukan Srandul, Sanggar Tari Breksi, Jathilan Macho Budoyo, dan Reog Sembrani. "Promosi dalam bentuk event memberikan dampak signifikan berupa tumbuhnya aktivitas ekonomi," katanya.
Zayid sendiri menilai pariwisata merupakan lokomotif perekonomian. Hal ini lantaran para wisatawan pasti membawa uang untuk dibelanjakan. Baik itu membayar akomodasi, makan, hingga oleh-oleh. Jadi, ketika pariwisata berjalan baik maka kesejahteraan akan meningkat.
Dalam kegiatan Sleman Temple Run sendiri akan ada tiga kategori, yakni 7 km, 15 km, dan 30 km. Nantinya akan melewati Candi Banyunibo, Candi Barong, Candi Ratu Boko, Candi Miri, dan Candi Ijo.
Acara yang digelar sejak 2015 ini juga sudah terdaftar dalam Internasional Trail Running Association. Peserta yang berhasil menyelesaikan rute ini akan mendapatkan ITRA Point.
Sementara itu, Race Director Sleman Temple Run 2025 Roostian Gamananda mengatakan, tercatat sudah ada 18 peserta asing yang berasal dari 15 negara. Misalnya, Palestina, Sudan, dan Polandia. "Bagi komunitas yang ingin mendaftar, bisa menggunakan diskon kolektif," katanya. (del/laz)