RADAR JOGJA - Regenerasi pembatik di Jogjakarta diperkirakan masih akan terus ada dan stabil. Hal itu diyakini oleh Afif Syakur, perancang dan perajin batik.
Afif sendiri sudah puluhan tahun berkarya dan berkecimpung di industri batik. Entitas dan darah pembatik turun dari keluarga besarnya yang berasal dari Pekalongan.
"Saya generasi keempat perajin batik di Pekalongan. Sejak tahun 1985, saya hijrah ke Jogja," jelas pria yang dikenal sebagai seniman batik ini kepada Radar Jogja Minggu (1/10).
Kepindahannya ke Jogja membuat Afif memiliki perspektif baru dalam memandang batik. Dulu ia hanya berpikir batik sebagai komoditas ekonomi semata. "Mikirnya dulu ekonomi yaitu bikin, laku dapat untung," ungkapnya.
Saat hijrah ke Jogja, ia memandang batik lebih luas, sebagai komoditas budaya yaitu ada simbol dan karakteristik. Mulai dari bahan, motif dan juga asal daerah serta muatan dalam kandungan batik.
Afif mengungkapkan, batik berkembang dari komoditas budaya yang awalnya dipakai oleh golongan tertentu hingga akhirnya dibuat secara komersial dan aksesibel baik secara massal maupun perorangan. "Batik itu pada dasarnya barang mewah. Bahkan dulu batik itu bisa digadaikan," lontarnya.
Diakui, terdapat beberapa kategori batik yang membuat batik secara tidak langsung memiliki strata bagi para pemakainya. "Seperti batik Keraton, itu salah satu strata paling tinggi sebagai sebuah simbol budaya," ujarnya.
Disebutkan juga ada batik sudagaran, yakni batik yang banyak dipakai oleh orang-orang kaya atau saudagar. Bahkan ada juga batik rakyat atau petani. "Semua orang saat ini punya aksesibilitas setara untuk menggunakan batik," tuturnya.
Afif menyebut, seluruh masyarakat Indonesia dirasa perlu untuk memelihara dan mengetahui proses hulu sampai hilir dari batik itu sendiri. Tidak saja sekadar memperingatinya setiap tahun. "Harus ada entitas sejarah yang dipelajari soal batik, karena itu kebanggaan batik kita diakui dunia," bebernya.
Afif percaya regenerasi pembatik juga akan terus berjalan selama batik masih diminati atau batik secara langsung turut didukung pemerintah. "Misalnya pejabat menggunakan batik dalam event, maka akan terus berjalan, bahkan berkembang regenerasinya," tambahnya.
Afif juga mempercayai bahwa sosial budaya dan politik sangat berpengaruh terhadap perkembangan batik. "Sospol dan budaya itu pengaruhnya besar sekali. Dan itu jadi pola yang terus terjadi," ujar Afif. (iza/laz)