Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Slamet Sutopo Meski Gaji Hanya Rp 800 Ribu Per Bulan, Tak Tergiur Daftar PPPK

Khairul Ma'arif • Sabtu, 30 September 2023 | 13:28 WIB

PENGABDIAN TANPA BATAS: Slamet Sutopo di rumahnya, Padukuhan Pranti, Srihardono, Pundong, Bantul, saat ditemui Radar Jogja Jumat (29/9).Khairul Ma
PENGABDIAN TANPA BATAS: Slamet Sutopo di rumahnya, Padukuhan Pranti, Srihardono, Pundong, Bantul, saat ditemui Radar Jogja Jumat (29/9).Khairul Ma
 

RADAR JOGJA - Pendaftaran Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk guru di Bantul, sudah dibuka. Para pengajar yang berstatus honorer, ramai-ramai mendaftar agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Tapi, itu tidak bagi Slamet Sutopo yang sudah menjadi honorer sejak 2003 dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulannya itu.

Penghasilan Slamet dihitung dari jumlah jam belajar yang diampunya. Tetapi, ia tidak berniat mendaftar untuk jadi guru PPPK. "Usia saya yang sudah tua ini tidak tertarik dengan adanya PPPK. Memberi kesempatan ke yang muda-mudah saja," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (29/9).


Pria berusia 55 tahun ini sebenarnya masih bisa mendaftar menjadi guru PPPK. Malah sebenarnya golongan pendidikan seperti Slamet diprioritaskan diangkat menjadi PPPK. Bukan tanpa alasan dia enggan mendaftar PPPK. Menurutnya, penyebab utamanya hanya karena rumitnya syarat pendaftaran yang dibutuhkan.


Namun, guru Seni Budaya di SMPN 3 Banguntapan ini juga merasa tidak perlu menjadi PPPK, jika hanya mengejar pendapatan. "Masa pengabdian saya akan habis dalam waktu dekat, toh PPPK tidak ada pensiunan juga. Jadi seperti ini saja saya sudah cukup," tuturnya.
Slamet menuturkan, gajinya yang sebulan Rp 800 ribu tidak ujug-ujug langsung senilai seperti itu. Awalnya Rp 400 ribu sebulan, lambat laun meningkat hingga seperti sekarang. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, lulusan Karawitan ISI Jogja itu nyambi mengajar kesenian di luar sekolah.


Berbagai kalangan, baik masyarakat umum maupun anak sekolah belajar dari Slamet perihal kesenian. Dia mengaku sering dipanggil untuk mengajar di satu padukuhan atau satu sekolah.
Selain itu, bapak dua anak ini juga seorang dalang. Dulu dia sering menerima panggilan manggung untuk menjadi dalang. "Tetapi, sekarang saya sudah berusia cukup tua, jadi sudah jarang-jarang manggung," ujarnya.


Warga Padukuhan Pranti, Srihardono, Pundong itu memang sudah sejak kecil menyenangi kesenian karawitan. Sedangkan menjadi guru, diakuinya, sebagai panggilan hati dari masa remaja sebagai pekerjaan yang diimpikannya.


Di rumahnya berbagai busana dan alat musik untuk mendukung seni karawitan berjejer rapi. Wayang kulit beserta layar terkembangnya pun ada. Dari gubug itu juga didirikan Sanggar Seni Nguri Budaya sejak 2013 lalu.


Slamet sekarang memiliki 20 murid yang sering belajar seni karawitan di rumahnya. Namun dari jumlah muridnya itu, tidak ada yang dimintai uang untuk belajar. Menurutnya, jika ingin belajar tinggal datang saja, tidak perlu mengeluarkan biaya.


"Tetapi ada saja beberapa wali murid yang memberikan bahan pokok yang nantinya juga digunakan bersama di sanggar," tuturnya. Kalau pun nanti muridnya ikut lomba bergengsi, biayanya dari sekolah formal siswa itu karena membawa nama baik instansinya.


Slamet mengungkapkan, selama ini juga mendapat penghasilan tambahan dari persewaan baju adat Jawa yang biasa dipakai para siswa. Selain itu, sebagai seorang guru K2 dia juga sudah mendapat insentif dari pemerintah sebesar Rp 4,5 juta setiap tiga bulannya.
Dari situlah ia mengaku memutar otak agar uangnya dapat cukup untuk membiayai keluarganya. "Kalau saya inginnya diangkat saja, langsung jadi pegawai," ujarnya menyeringai. (laz)

Editor : Satria Pradika
#guru honorer #PPPK #Bantul