Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kekalahan Kedua Mangkubumi dari Mangkunegara

Kusno S Utomo • Kamis, 3 Agustus 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Rivalitas Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas (RM) Said belum berakhir. Status sebagai Sultan Hamengku Buwono I dan Adipati Mangkunegara I tak menghapus permusuhan politik keduanya.


Hubungan buruk itu semakin parah saat putra mahkota kasultanan, Gusti Raden Mas (GRM) Sundoro gagal meminang putri Susuhunan Paku Buwono III. Kegagalan pernikahan politik itu ditengarai karena peran terselubung Mangkunegara I.
Meski berstatus kakak ipar, Said dinilai telah menghina Sundoro. Kejadiannya saat putra mahkota kasultanan berkunjung ke Keraton Surakarta pada 1763. Kunjungan itu dalam rangka nontoni, semacam taaruf dengan calon istrinya.


Tindakan Mangkunegara I dianggap telah merendahkan martabat putra mahkota. Peristiwa itu kemudian melahirkan krisis berkepanjangan. Sikap Mangkunegara I itu bukan hanya melukai putra mahkota. Kakak tirinya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, permaisuri Mangkunegara I ikut merasa tersinggung.


Saat rombongan Sundoro hendak kembali ke Jogja, Ratu Bendara ikut serta. Setiba di keraton ayahandanya, Ratu Bendara menolak balik ke Mangkunegaran. Atas kejadian itu Mangkunegara I menuding Sultan Mangkubumi sengaja menahan putrinya. Tidak mengizinkannya pulang ke Surakarta.


Belakangan Ratu Bendara menuntut cerai. Keadaan itu kembali mengundang krisis politik. Nyaris timbul perang besar. Sejumlah pasuka kedua kerajaan disiapkan. Perang antara Kasultanan dan Mangkunegaran tinggal menunggu waktu.
Krisis itu menunjukan permusuhan pribadi, ambisi politik, dan percintaan berbaur menjadi satu. Ditambah ada rasa gengsi menjaga pretise kedua penguasa Jawa yang sejak awal hubungannya dipenuhi beragam intrik.


Menyikapi itu, VOC akhirnya turun tangan. Kompeni mengirimkan Residen Semarang Hermanus de Munnik menemui Sultan Mangkubumi pada Juli 1763. Sultan Mangkubumi sangat marah dengan sikap Kompeni yang mendesaknya segera menyerahkan Ratu Bendara ke suaminya.
“Jika Kompeni ingin menjadikan Mangkunegara sebagai Sultan dan mengambil separo Jawa dariku, silakan saja,” ucap Sultan dengan nada keras saat bertemu dengan pejabat VOC.


Krisis ini dipahami sebagai akibat perkawinan politik putri Mangkubumi dengan Said, semasa keduanya masih rukun. Sama-sama dalam koalisi melawan VOC dan Paku Buwono III. Status Mangkubumi adalah paman sekaligus mertua Mangkunegara I.
Selama bertahun-tahun Said menjadi pesaing utama Mangkubumi memperebutkan supremasi atas Jawa. Beberapa kesempatan menyingkirkan musuh politiknya lepas gara-gara sikap lunak VOC. Sekutu politik Mangkubumi itu tidak bersedia menangkap atau membunuh Mangkunegara pada 1755 dan 1757, meski kesempatan menurut Mangkubumi terbuka luas. Kompeni juga tidak menghalangi perkawinan Pangeran Prabu Hamijaya, putra Mangkunegara I dengan GKR Alit, putri tertua Paku Buwono III. Kesabaran Mangkubumi telah habis. Sesungguhnya Ratu Alit yang hendak dijodohkan dengan Sundoro. Harapannya, anak dari perjodohan politik itu digadang-gadang menjadi raja yang menyatukan Surakarta dan Ngayogyakarta.


Meski demikian, VOC punya pandangan lain. Bila perang terbuka dilakukan, kemungkinan besar kemenangan ada di tangan Mangkunegara. Sebab, Pangeran Sambernyawa itu dianggap cukup populer di kalangan para petinggi kasultanan.
Ketika paman dan keponakan itu tak mau kompromi, VOC meminta bantuan Susuhunan Paku Buwono III ikut meredakan ketegangan. Dalam Babad Mangkubumi dikisahkan, Susuhunan menasihati saudara sepupunya itu menerima opsi perceraian dengan Ratu Bendara. Bila Mangkunegara I tak meredakan amarahnya, bakal menghadapi tiga musuh sekaligus. Kasultanan, Kompeni dan Tuhan.


Perceraian Mangkunegara I dan Ratu Bendara akhirnya diproses pada Desember 1763. Selesai dua tahun kemudian. Ratu Bendara menegaskan, kedatanganya ke Jogja atas inisiatifnya sendiri. Begitu juga keinginan cerai dari suaminya. Dengan perceraian itu Mangkunegara I kehilangan hubungan perkawinan dengan Dinasti Hamengku Buwono.


Perceraian itu menjadi pukulan telak terhadap ambisi politik Said. Demikian pula bagi Sultan. Kejadian itu merusak diplomasi perkawinan yang hendak dibina dengan mengawinkan Sundoro dengan salah satu putri Paku Buwono III.


Lantaran Paku Buwono III terus menunda dan tidak kunjung memberi kepastian, Sundoro akhirnya menikah dengan putri Pangeran Pakuningrat, seorang kerabat kasultanan. Pernikahan putra mahkota berlangsung Desember 1765
Sebelumnya, Ratu Bendara lebih dulu kawin dengan Pangeran Diponegoro, putra Pangeran Ngabehi Saloringpasar pada awal 1765. Diponegoro, suami kedua Ratu Bendara ini bukanlah Diponegoro, putra Hamengku Buwono III yang memimpin Perang Jawa 1825-1830.


Perkawinan putra mahkota dengan putri Pakuningrat telah menghentikan upaya menyatukan kembali Mataram melalui politik perkawinan. Untuk kali kedua sejak Perjanjian Giyanti, Mangkubumi mengalami kekalahan besar. Said tidak terbunuh.
Dinasti Paku Buwono dan Hamengku Buwono tak dapat dipersatukan dalam perkawinan. Pernikahan kembali Ratu Bendara telah menghapuskan kesempatan Mangkunegara I memakai perkawinan guna mengklaim takhta kasultanan. (laz)

Editor : Satria Pradika
#sultan hamengku buwono #Pangeran Mangkubumi #GKR #VOC