KEBUMEN - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kebumen menunggu hasil keputusan sidang isbat dalam penentuan awal Ramadan. Keputusan ini akan menjadi acuan warga NU, jika pengamatan bulan sabit atau rukyatul hilal di berbagai daerah tidak membuahkan hasil.
Ketua PCNU Kebumen Imam Satibi mengatakan, rukyatul hilal atau pengamatan visibilitas bulan sabit sebagai metode yang digunakan NU dalam menentukan awal Ramadan. Hasil peneropongan bulan ini nantinya akan menjadi rujukan bagi warga nahdliyin sebelum menjalani ibadah puasa. "Seandainya hilal tidak nampak, baru kita percayakan pada hasil isbat pemerintah," katanya Selasa (17/2).
Baca Juga: Kalurahan Banjaroyo Dikepung Bencana, 39 Titik Longsor dalam Sehari: Sebabkan 29 Rumah Rusak Sedang
Satibi mengatakan, PCNU Kebumen tahun ini menggelar rukyatul hilal di Menara Mercusuar Tanggulangin, Kecamatan Klirong. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai cukup representatif. Di mana tim observatif PCNU akan dengan mudah dan leluasa meneropong bulan setelah metahari terbenam tanpa terhalang objek lain seperti gunung dan gedung.
"Lokasi ini perdana bagi PCNU. Rukyatul hilal ke depan kami programkan di tempat sama," kata Imam.
Baca Juga: Dampak Hujan Angin di Sleman sebabkan Joglo Roboh, Timpa Tiga Orang dan Alami Luka-Luka
Dalam pelaksanaan rukyatul hilal ini PCNU Kebumen mengirim petugas mumpuni di bidang kajian falakiyah dan astronomi. PCNU juga memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung proses rukyatul hilal. "Kami fasilitasi teleskop dan theodolit untuk mendukung rukyatul hilal," katanya.
Selama pelaksanaan rukyatul hilal tersebut tim PCNU Kebumen memastikan tidak melihat hilal di ufuk barat. Dengan begitu keputusan awal ramadan akan ditentukan setelah pemerintah melaksanakan sidang isbat berdasar hasil rukyatul hilal yang berlangsung di berbagai daerah. "Sore ini hilal dipastikan tidak terlihat. Di bawah ufuk minus dua derajat. Maka keputusan kami serahkan kepada ulil amri (pemerintah)," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kebumen Syarif Hidayatullah mengajak seluruh komponen masyarakat untuk saling menghormati terkait keputusan awal ramadan. Menurutnya penentuan awal puasa mestinya bukan menjadi celah perdebatan. Justu bagi dia yang terpenting saat ini bagaimana menjaga esensi ramadan sebagai bulan penuh berkah.
Lebih lanjut, menurut Syarif saat ini bukan waktunya memperdebatkan penentuan awal puasa. Dia mengajak setiap pribadi mampu memaknai secara spiritual keutamaan puasa. "Tidak ada kalah menang dalam penentuan hari pertama Ramadan. Lebih baik fokus mencari apa itu ruh dari puasa," ujarnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita