Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Bawah Kabut Perbukitan Magelang, SBY Melukis Bersama Puluhan Seniman

Naila Nihayah • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:03 WIB

 

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyelesaikan hasil karya lukisnya selama dua jam di Wonolelo Hill Camp, Kamis (12/2/2026).
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyelesaikan hasil karya lukisnya selama dua jam di Wonolelo Hill Camp, Kamis (12/2/2026).

MUNGKID - Kabut tipis menggantung di perbukitan Wonolelo Hill Camp, Sawangan, Kabupaten Magelang, Kamis (12/2/2026).

Di tengah hawa sejuk lereng Merbabu-Merapi, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) duduk di depan kanvas berukuran 1,5 x 1 meter dengan kuas di tangan, serta dikelilingi puluhan seniman berbagai daerah.

Kegiatan melukis bersama itu diinisiasi SBY Art Community dan diikuti puluhan perupa.

Menghadap hamparan perbukitan dengan lanskap yang berubah-ubah, para seniman diberi waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk mengekspresikan perspektif masing-masing.

Sejak pagi, langit Wonolelo tidak sepenuhnya cerah.

Mendung dan kabut bergantian menutup dan membuka pandangan ke arah Merbabu dan Merapi di kejauhan.

Namun bagi SBY, situasi itu justru menghadirkan pilihan artistik.

"Saya kira tidak akan hilang kabutnya, justru kabut itu juga salah satu keindahan," katanya.

Puluhan seniman pun menyebar di beberapa titik.

Memilih angle terbaik sebagai objek lukis.

Selama melukis pun, SBY memutar lagu-lagu Koes Plus-an yang dinyanyikan sendiri.

Suasana pun tampak cair.

Sesekali SBY melihat lebih dalam hasil sapuan kuasnya agar pas dengan bayangannya.

Ia memilih melukis lanskap semi-abstrak.

Bukan tanpa alasan.

Waktu yang terbatas membuatnya tak mungkin mengejar detail realistis.

"Kalau ngejar detail mboten saget, pasti lebih lama. Jadi hari ini saya melukis seni abstrak," sambung dia.

SBY mengaku, hampir setiap hari melukis sejak 2021.

Aktivitas itu ia tekuni setelah kehilangan sang istri, Ani Yudhoyono.

Sehingga ia berpikir untuk menemukan kegiatan sebagai pelipur laranya.

Dan melukis, baginya, menjadi ruang kontemplasi sekaligus terapi batin.

Dalam lima tahun terakhir, ia menyebut, telah benar-benar serius menekuni dunia lukis.

Namun kecintaannya pada seni sudah tumbuh sejak remaja.

Mulai bermain band, menggambar, terlibat dalam gamelan, wayang, hingga drama.

"Di hari tua sekarang saya kembali ke habitat dunia seni," ucapnya.

SBY juga menyinggung soal posisi seniman dalam kehidupan bangsa.

Dia menekankan pentingnya negara memberi ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya.

"Para seniman dan budayawan harus dimuliakan di negerinya sendiri, diberi kesempatan, diberi ruang untuk berkreasi," imbuh dia.

Dia menyebut, seni sebagai wilayah hati dan jiwa, bukan ruang politik.

SBY Art Community, menurutnya, bukan organisasi massa atau organisasi politik.

Ia juga mengingatkan, seni bersifat holistik.

Tidak hanya soal ekspresi personal, tetapi juga kesadaran terhadap masyarakat.

SBY mengaku terkesan dengan atmosfer seni di Magelang.

Ia melihat potensi besar yang perlu terus dirawat.

"Seniman itu mungkin bukan orang kaya raya, bukan pemilik kekuasaan politik. Tapi hatinya tulus, pikirannya jernih untuk melakukan sesuatu demi kebaikan bangsa dan negara," ujarnya.

Saat disinggung pandangannya ihwal seni rupa, SBY tak menampik, perkembangan lukisan kontemporer yang semakin eksperimental.

Ia bercerita, pernah melihat pameran di New York dan Tokyo dengan karya-karya yang menurutnya aneh.

"Orang kepalanya dua, tangannya panjang tiga meter," kelakarnya.

Baca Juga: Tragedi Berdarah di Papua Selatan: Pesawat Smart Air PK-SNR Ditembak Saat Mendarat, Dua Pilot Gugur, Penumpang Selamat!

Meski memahami arus seni kontemporer, ia mengaku, lebih menyukai karya yang tetap memancarkan keindahan secara visual.

Namun ia menegaskan, tidak boleh ada pembatasan ekspresi warna dan gagasan.

"Kalau melukis semuanya merah ngapain? Nggak ada yang boleh menghalang-halangi, entah merah, kuning, hijau, atau biru," bebernya.

Di depan kanvasnya itu, SBY berhasil menyelesaikan sebuah karya berupa lanskap alam dalam kurun waktu sekitar dua jam.

Lukisan yang ia hasilkan pagi itu berupa lanskap semi-abstrak dengan dominasi warna hijau dan nuansa kabut.

Ada pepohonan hijau disertai gunung dan perbukitan, lengkap dengan langit mendung.

Nantinya, hasil karya puluhan seniman itu bakal ditampilkan pada gelaran nonton bareng (nobar) Proliga 2026 di Grand Artos Hotel & Convention, Kamis malam (12/2/2026).

Soal judul, ia mengaku belum menentukannya.

"Belum (ada pikiran soal judu), sedang istikharah," katanya sambil tertawa.

SBY berharap, kegiatan melukis bersama itu bukan yang terakhir.

Ia membuka kemungkinan kolaborasi lanjutan yang melibatkan seniman daerah dalam berbagai agenda kreatif.

Seniman asal Borobudur, Umar Chusaeni menilai, kegiatan tersebut memperkuat posisi Magelang sebagai salah satu simpul seni rupa di Jawa Tengah.

Bagi para seniman lokal, kehadiran SBY bukan sekadar figur nasional yang melukis bersama, tetapi juga simbol dukungan terhadap ekosistem seni di daerah.

Baca Juga: Ledakan Bom di TPS Gopalganj Bangladesh Lukai 3 Orang, Termasuk Anak Perempuan, Pemilu 2026 Makin Tegang!

"Magelang sebetulnya kota seni. Banyak museum dan galeri seni rupa. Seniman di sini kompak dengan kreativitasnya masing-masing," lontarnya.

Menurut Umar, kolaborasi semacam ini memberi energi positif sekaligus inspirasi bagi daerah lain.

"Ini kegiatan yang positif dan bisa menginspirasi kota-kota lain bahwa seni adalah bagian dari napas kehidupan bangsa Indonesia," tambahnya. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Susilo Bambang Yudhoyono melukis #sby melukis #SBY Melukis di magelang #Wonolelo Hill Camp #susilo bambang yudhoyono #SBY Art Community