Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

ODGJ Tebas Leher Satpol PP dengan Senjata Tajam di Kebumen di Luar Kendali Petugas

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 3 Februari 2026 | 22:13 WIB
Kepala Satpol PP Kebumen Ira Puspitasari.
Kepala Satpol PP Kebumen Ira Puspitasari.

KEBUMEN - Kepala Satpol PP Kebumen Ira Puspitasari menyatakan insiden maut saat evakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di luar kendali petugas. Ia memastikan seluruh prosedur serta mitigasi risiko telah dilakukan tim terpadu, namun ternyata proses evakuasi mendapat perlawanan dari ODGJ.

"Dalam evakuasi itu ada hal di luar prediksi, sehingga terjadi kecelakaan kerja, Mas Faik terkena senjata tajam," ujar Ira selepas prosesi pemakaman Faik, Selasa (3/2).

Ira menjelaskan, dalam proses evakuasi ini tim gabungan dari unsur TNI, Polri, Satpol PP bersama tenaga medis telah melakukan pendekatan persuasif. Petugas sempat berupaya membujuk ODGJ yang diketahui membawa senjata tajam. Namun upaya itu gagal.

Ketika hendak dievakuasi, ODGJ asal Desa Krakal, Kecamatan Alian itu tiba-tiba menyerang petugas secara brutal. Korban yang merupakan anggota Satpol PP Kebumen meregang nyawa setelah terkena sabetan senjata tajam pada bagian leher. "ODGJ itu tidak bisa diprediksi. Sepertinya anteng, tapi bisa menjadi reaksional," bebernya.

Ira mengatakan, meninggalnya Mochamad Faik, anggota Satpol PP Kebumen saat proses evakuasi ODGJ perlu menjadi pembelajara bersama. Khusus di internal Satpol PP sendiri akan dijadikan bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang. "Tentu, kami evaluasi agar aparat ketika bertugas terlindungi dan masyarakat juga terlindungi," katanya.

Terpisah, Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Selaras Jiwa Kebumen Paimin alias Slamet Duren mengatakan, peristiwa nahas yang dialami anggota Satpol PP saat mengevakuasi ODGJ sebenarnya dapat dihindari. Jika petugas tidak terlalu memaksakan dalam proses penanganan.

Upaya pemaksaan, menurutnya, yang membuat ODGJ merasa tidak nyaman sehingga melakukan perlawanan ke petugas. "Kalau dihadapi ramai-ramai, dia itu pasti panik. Depresinya semakin tinggi," ujarnya.

Slamet mengaku sejak menangani penderita gangguan jiwa pada tahun 2009, ia beberapa kali menghadapi kejadian sama, di mana ODGJ mencoba melawan dengan senjata tajam. Namun dengan kesabaran dan metode pendekatan terukur, proses evakuasi berjalan lancar tanpa perlawanan.

Dia pun berharap meninggalnya anggota Satpol PP di tangan ODGJ menjadi insiden pertama dan terakhir di Kabupaten Kebumen. "Intinya jangan memaksakan diri. Misal tidak memungkinkan, lebih baik mundur dulu," jelasnya. (fid/laz)

Editor : Herpri Kartun
#ODGJ #Satpol PP Kebumen #ODGJ Tebas Leher