RADAR JOGJA - Wulan Guritno syuting untuk film di Benteng Van Der Wijck Gombong, Kebumen. Kemungkinan, syutingnya masih beberapa waktu lagi.
Ternyata, benteng itu punya kisah panjang. Benteng Van Der Wijck merupakan benteng yang dibangun pemerintah kolonial Belanda. Pembangunannya dilakukan usai Perang Diponegoro yang berkobar sekitar tahun 1825 sampai 1830.
Berdasarkan informasi dari laman Kemendikbud, benteng ini dibangun pada tahun 1833. Semula fungsinya bukan sebagai pertahanan.
Tapi, benteng ini lebih difungsikan sebagai tempat menyimpan logistik untuk tentara Belanda. Namum, benteng ini mengalami perubahan fungsi pada tahun 1856.
Benteng dialihkan menjadi Pupillen School. Semacam sekolah khusus untuk calon militer bagi anak-anak keturunan Eropa yang lahir di Hindia Belanda.
Awalnya, benteng ini bukan bernama Van Der Wijck. Tapi, Fort Cochius atau Benteng Cochius.
Nama Cochius diambil dari nama salah seorang jenderal Belanda. Dia adalah Frans David Cochius.
Cochius pernah terlibat peperangan dengan Pangeran Diponegoro. Dia merupakan pimpinan pasukan untuk menghadapi Pangeran Diponegoro di wilayah Bagelen. Saat itu, wilayah ini masuk Karesidenan Kedu.
Pada Agustus 1814, Cochius menjadi tentara Belanda dengan pangkat letnan satu. Lantas, dia masuk ke formasi Tentara Hindia Belanda dan diberi pangkat kapten. Karirnya meningkat hingga menjadi komandan.
Saat Perang Jawa menghadapi Pangeran Diponegoro, dia beberapa kali menyerang wilayah Jogjakarta. Bahkan, sempat mengejar Pangeran Diponegoro sampai ke Dekso.
Nama yang disematkan untuk benteng itu kemudian berubah. Diganti menjadi Benteng Van Der Wijck.
Van Der Wijck merupakan perwira militer Belanda. Dia, salah satunya, mengalahkan perjuangan masyarakat Aceh.
Editor : Amin Surachmad