Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perang Iran Bikin Trump Lebih Lemah dan Marah Besar, Kata The Economist

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 22 Maret 2026 | 15:19 WIB

Sampul The Economist edisi 21 Maret 2026.
Sampul The Economist edisi 21 Maret 2026.

WASHINGTON – Majalah ternama The Economist edisi 21 Maret 2026 mengejutkan dunia dengan sampul bertajuk "Operation Blind Fury" yang menggambarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan helm militer berlubang peluru.

Headline utama edisi itu menyatakan: perang di Iran justru membuat Trump lebih lemah sekaligus lebih berbahaya.

Menurut analisis mendalam di bagian Leaders The Economist, politik Trump selama ini bergantung pada citra pemenang yang kuat.

Namun operasi militer besar-besaran melawan Iran—yang dimulai setelah pemilu 2024 dan berlangsung hampir tiga minggu—malah menggerus tiga "kekuatan super" politiknya:

kendali narasi, loyalitas partai Republik, serta kemampuan menarik pemilih kelas pekerja.

"Even a short war will alter the course of his second term. One that lasts months could bring it crashing to earth," tulis The Economist. 

Mereka menilai perang yang disebut "reckless" ini berpotensi menaikkan harga minyak dunia secara drastis, memicu inflasi di AS, dan membuat Trump tampak kalah di mata publik.

Akibatnya, presiden yang terpojok justru diprediksi akan semakin balas dendam dan tak terkendali.

Sampul edisi tersebut langsung viral di platform X (dulu Twitter).

Banyak netizen pendukung Trump menyerang The Economist sebagai "anti-Trump" dan "selalu salah prediksi".

Sebagian lain justru setuju, menyebut perang Iran berisiko membawa AS ke krisis ekonomi dan geopolitik yang lebih luas, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Hingga kini belum ada komentar resmi dari Gedung Putih terkait analisis The Economist.

Namun postingan akun resmi majalah itu pada 21 Maret 2026 telah ditanggapi puluhan ribu kali, menunjukkan polarisasi tajam soal kebijakan luar negeri Trump di periode keduanya.

Perang Iran-AS-Israel terus berlangsung dengan intensitas tinggi.

Dampaknya terhadap harga BBM global dan stabilitas Timur Tengah menjadi perhatian utama pelaku pasar dan pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor minyak. (iwa) 

Sumber: The Economist (edisi 21 Maret 2026), unggahan resmi @TheEconomist di X)

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#donald trump #the economist #perang iran #selat hormuz