Ia menegaskan bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah mempertaruhkan nyawa warga negaranya dengan mengizinkan pangkalan-pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran.
"Sebagian besar rakyat Inggris tidak ingin terlibat dalam perang pilihan Israel-AS terhadap Iran. Dengan mengabaikan rakyatnya sendiri, Starmer membahayakan nyawa warga Inggris dengan mengizinkan pangkalan-pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran. Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri," tulis Araghchi di X.
Pernyataan tersebut muncul usai pemerintah Inggris pada Jumat menyetujui penggunaan pangkalan-pangkalan Inggris oleh AS untuk serangan terhadap situs-situs rudal Iran.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran menanggapi dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Seperti diketahui, Pemerintah Inggris telah menyetujui perluasan akses AS ke pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi yang menargetkan kemampuan rudal Iran yang mengancam pelayaran di Selat Hormuz, menurut pernyataan Downing Street, dikutip dari ANTARA.
Pernyataan pemerintah mengatakan bahwa dalam pertemuan Jumat (20/3), para menteri Kabinet "mengonfirmasi bahwa kesepakatan bagi AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris dalam pertahanan diri kolektif kawasan tersebut mencakup operasi pertahanan AS untuk menurunkan kemampuan dan situs rudal yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz."
Pemerintah menekankan bahwa "prinsip-prinsip di balik pendekatan Inggris terhadap konflik tetap sama" dan menyerukan "de-eskalasi yang mendesak dan penyelesaian perang yang cepat."
Para menteri Kabinet "mengutuk perluasan target Iran hingga mencakup pelayaran internasional."
"Mereka sepakat bahwa serangan sembrono Iran, termasuk terhadap kapal-kapal Red Ensign (British Shipping Registers) dan kapal-kapal sekutu dekat dan mitra Teluk kita, berisiko mendorong kawasan tersebut lebih jauh ke dalam krisis dan memperburuk dampak ekonomi yang dirasakan di Inggris dan di seluruh dunia."
Dalam tulisannya di akun media sosial X, pemimpin oposisi Konservatif Kemi Badenoch menyebut keputusan itu sebagai "perubahan haluan terbesar sepanjang masa."
Editor : Bahana.