Federasi Rusia mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan tindakan agresif mereka terhadap Iran, menyusul eskalasi militer di kawasan yang memicu kekhawatiran akan perluasan konflik.
Pernyataan itu disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vassily Nebenzia, dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB di Markas Besar PBB, New York, Minggu (1/3).
Nebenzia menyatakan bahwa agresi terhadap Iran sebagai “aksi agresi bersenjata tanpa provokasi” yang bertentangan dengan Piagam PBB dan hukum internasional.
Ia mengungkapkan tindakan militer itu telah memicu ketegangan di wilayah itu dan berpotensi meluas di luar perbatasan Timur Tengah jika tidak dihentikan.
Desakan tersebut dilontarkan di tengah serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel terhadap target di Teheran dan kota lain di Iran pada akhir Februari, yang memicu respons rudal balasan dari Teheran.
“Kami menekankan perlunya segera melanjutkan penyelesaian politik dan diplomatik, mencari solusi berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan keseimbangan kepentingan. Rusia siap memberikan semua bantuan yang diperlukan,” katanya, dikutip dari ANTARA.
Rusia juga menilai operasi militer tersebut memiliki risiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi serius, termasuk dampak terhadap stabilitas regional yang lebih luas. Ia juga menyerukan Perlindungan terhadap warga sipil serta menghormati kedaulatan negara anggota PBB.
Desakan Rusia ini sejalan dengan dorongan global lainnya untuk meredakan ketegangan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga mengecam serangan itu sebagai ancaman terhadap peluang diplomasi yang sedang berjalan antara AS dan Iran, meminta penghentian permusuhan dan kembalinya semua pihak ke meja perundingan.
“Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” kata Guterres.
Langkah Rusia mencerminkan keprihatinan diplomatik yang lebih luas terhadap eskalasi konflik, khususnya ketika upaya penyelesaian politik dan jalur negosiasi tengah berjalan di berbagai forum internasional.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.