Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pompa Air Manual

Editor Content • Minggu, 11 Juli 2021 - 15:14 WIB
KENANGAN: Ranto, warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul, menunjukkan bangkai pompa air manual yang pernah berjaya di zamannya kemarin (9/7). (GUNAWAN/RADAR JOGJA)
KENANGAN: Ranto, warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul, menunjukkan bangkai pompa air manual yang pernah berjaya di zamannya kemarin (9/7). (GUNAWAN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Pompa air manual kini menjadi barang langka seiring dengan kemajuan tekhnologi. Meski sudah mulai menghilang, tidak dengan kenangannya. Sejumlah warga menjadi saksi alat itu tercanggih di zamannya.

Di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, pompa air manual muncul di era tahun 80-an. Menurut Sularto, 47, dari sekian banyak penduduk kampung, pemilik pompa air manual bisa dihitung degan jari. “Dulu ada yang menimba dari sumur dan mencari ke sumber air dan disambung ke selang,” kata Sularto kemarin (9/7).

Dari dua cara mencari air itu, alat pompa air manual dinilai paling mutakhir. Bagaimana tidak, kedalaman sumur rata-rata lebih dari 10 meter. Agar bak penampungan bisa penuh, memerlukan lebih dari 15 kerekan.
“Ember terisi air dikerek ke permukaan kira-kira bobotnya 10 kilogram. Otot tangan, dada menjadi kuat, tapi ya capek,” ucapnya.

Kalau pakai selang? Sepertinya selangkah lebih maju. Dengan catatan sumber air jaraknya dekat. Padahal di dusunnya, jarak permukiman dengan sumber air ber kilo-kilo meter. Melintasi sawah, kebun, dan sawah terasiring.

“Belum kalau selang tersumbat. Masya Allah, perlu seharian untuk melancarkannya. Arep nesu karo sopo (mau marah sama siapa, Red). Untung bapak ibu saya punya sumur dekat rumah,” ungkap Sularto.
Dari cerita ini, dia menyimpulkan bahwa kehadiran mesin pompa manual pada waktu itu sungguh istimewa. Saking hebatnya, kali pertama dipasang warga berkerumun melihat dari dekat.

“Bukan cuma melihat, tapi juga antre ambil air menggunakan ember dan dibawa pulang ke rumah masing-masing,” ucapnya.

Bagaimana cara kerja pompa tangan? Sulistyo, 44, adik Sularto angkat bicara. Menurutnya, cukup mudah. Bagi warga yang memiliki sumur sendiri, pompa air ini menjadi pilihan untuk menggantikan cara tradisional, menimba air dari sumur. “Tinggal genjot, air keluar dari mulut pompa,” katanya.
Secara teknis, cara kerja pompa air manual juga sederhana. Ketika tuas pompa ditarik ke atas, piston bergerak ke bawah, ke dasar ruangan pompa. Air yang ada dalam pompa akan memasuki ruangan di atas piston melalui klep (valve) pada piston.

Ketika tuas pompa didorong ke bawah, piston bergerak naik bersamaan dengan tertutupnya klep piston, sehingga air yang ada di atas piston ikut terdorong dan keluar melalui corong pompa. Di saat bersamaan, piston akan menyedot air dari dalam sumur dan air memasuki ruangan di bawah piston melalui klep di dasar pompa yang terbuka di saat piston bergerak ke atas. “Lalu air keluar. Mudah bukan,” kata alumnus SMK Negeri Wonosari itu.

Tapi pompa tangan milik keluarganya sekarang tinggal kenangan. Digusur zaman, namun ‘jasadnya’ masih ada, walau tidak utuh. Tetap terpasang di posisi awal dekat sumur dan bersandingan dengan mesin pompa air dengan “tenaga” listrik. (gun/laz)

 

Jadikan Dragon seperti Dongkrak Mainan

Sebelum ada pompa air listrik, pompa air manual memang menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat “tempo doeloe”. Kehadiran pompa air manual cukup bersaing dengan sumur timba yang menggunakan mekanisme katrol.

Sebagian orang pun memiliki kenangan tersendiri dengan alat bantu pengambilan air itu, salah satunya Restu Arivianto. Warga Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, ini dulunya memiliki pompa air dengan merk Dragon hingga tahun 2.000-an. Setelahnya, Restu pun berganti dengan pompa listrik karena lebih mudah.

Selama menggunakan pompa air manual itu, pemuda berusia 27 ini punya kenangan tersendiri. Salah satunya menggunakan pompa Dragon miliknya sebagai mainan dongkrak ketika ia masih berusia kanak-kanak.
Kegiatan itu, lanjut Restu, sering dia lakukan sebelum kegiatan mandi atau ketika diminta membantu mencuci oleh orang tuanya. Ia jadikan sebagai mainan dongkrak, karena pompa manual memiliki tuas pengungkit yang hampir sama dengan alat untuk kendaraan roda empat itu.

Waktu kecil, ketika menggambil air dengan pompa miliknya, Restu tak jarang membayangkan sebuah tuas dongkrak di tangannya. Kemudian seolah-olah menaikkan kendaraan, padahal yang keluar merupakan air untuk mengisi embernya.

“Ketika membayangkan pompa Dragon sebagai dongkrak, memang menambah keasyikan ketika mengambil air. Sehingga tidak terasa capek. Malah sehat,” ujar Restu kepada Radar Jogja (9/7).

Selain memiliki kenangan sebagai mainan dongkrak, saat masih menggunakan pompa air manual itu Restu juga punya kenangan ketika mandi. Dulu, sewaktu masih mandi di sumur, dia sering meminta orang tuanya agar bisa mandi dengan air yang langsung keluar dari pipa pompa.

Menurut Restu, kala itu sensasinya lebih mengasyikkan daripada mandi dengan gayung. Sebab hampir mirip-mirip dengan mandi shower. “Kalau pakai air yang langsung keluar dari pipa, rasanya asyik kayak mandi shower. Karena tidak perlu ambil air pakai gayung,” kenangnya. (inu/laz) Editor : Editor Content
#oldies