Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi menjelaskan, target pengadaan beras Bulog tahun ini sebesar 5.927.140 kilogram.
Namun hingga tanggal yang sama, realisasinya baru 844.500 kilogram.
“Untuk gabah progresnya sudah cukup baik, mendekati target. Sedangkan beras memang masih rendah karena prosesnya bertahap mengikuti penggilingan dan distribusi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).
Gabah yang terserap, kata dia, masih harus melalui pengeringan dan penggilingan sebelum menjadi beras siap distribusi ke gudang Bulog.
“Kami terus berkoordinasi agar serapan, baik gabah maupun beras, bisa optimal. Ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mendukung ketahanan pangan daerah,” tambahnya.
Di tingkat petani, panen mulai dirasakan. Petani asal Kalurahan Hargomulyo Kapanewon Gedangsari Tumiem mengaku, baru saja memanen padi di lahan seluas 4.000 meter persegi.
Dari lahan tersebut, ia memperoleh sekitar 50 karung gabah basah. “Ini saya tanam benih unggulan jenis Supadi, baru dua tahun masuk Gedangsari, aslinya dari Klaten. Hasilnya lumayan,” ujarnya.
Tumiem memilih mengolah gabahnya sendiri hingga menjadi beras sebelum dijual. Menurut dia, harga gabah basah di tingkat petani sekitar Rp 7.000 per kilogram.
Namun jika sudah menjadi beras, harganya bisa mencapai Rp 17.000 hingga Rp 19.000 per kilogram karena kualitasnya pulen dan diminati konsumen.