GUNUNGKIDUL - Ribuan warga memadati Pantai Sundak di Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus menjelang datang bulan suci Ramadan, kemarin (17/2). Tradisi padusan yang digelar Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) itu tak sekadar menjadi ritus kesakralan, melainkan momentum spiritual sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agung Danarta menegaskan, padusan bagi masyarakat Gunungkidul bukan sekadar mandi atau membasuh tubuh dengan air laut. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan sarana sesuci atau pembersihan diri, baik dari hadas besar maupun kecil. Sekaligus upaya mamasuh budi agar hati menjadi tulus sebelum memasuki ibadah puasa.
"Padusan ini prosesi membersihkan diri lahir dan batin. Bukan hanya raga, tetapi juga hati dari rasa iri, dengki, dan kebencian,” ujarnya saat ditemui di Pantai Sundak, kemarin.
Prosesi diawali dengan kenduri yang dipimpin pemuka adat. Berbagai ubarampe atau perlengkapan sesaji disiapkan sarat makna filosofis. Agung menyampaikan makna dari berbagai jenis ubarampe yang sajikan.
Menurutnya, jenang baro-baro menjadi simbol penghormatan kepada saudara spiritual yang lahir bersamaan dengan manusia. Tumpeng punjung serakit, kata dia, ditujukan untuk mengirim doa kepada arwah leluhur agar mendapat tempat terbaik di alam sana.
Ada pula tumpeng sewu sebagai permohonan izin dan keselamatan kepada penguasa laut selatan, Nyai Kidul, agar upacara berjalan lancar. Sementara sekul suci ulam sari menjadi bentuk penghormatan kepada Kanjeng Rasul beserta keluarganya.
"Seluruh sesaji itu menjadi wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya,” tandasnya.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyampaikan, tradisi padusan merupakan penggalian kembali adat budaya Jawa yang sejak dahulu dilakukan warga Gunungkidul menjelang Ramadan. Dulu, kata dia, tradisi itu digelar di telaga, mengingat sumber air di wilayah ini banyak berasal dari telaga.
"Seiring perkembangan zaman, tradisi itu mulai bergeser dilakukan di rumah masing-masing. Maka tahun ini kami menggali kembali adat leluhur dengan padusan bersama di Pantai Sundak,” ujar Endah.
Menurutnya, padusan berasal dari kata adus dalam bahasa Jawa yang berarti mandi. Filosofinya adalah membersihkan diri dari ujung rambut hingga ujung kaki, sekaligus membersihkan hati untuk menyambut bulan suci.
Ia mengaku, Pantai Sundak dipilih karena dinilai memiliki ekosistem yang masih terjaga dan penataan pedagang yang rapi. Selain itu, terdapat joglo di tepi pantai yang digunakan untuk doa bersama. "Semua pantai pesisir selatan Gunungkidul sakral,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Pemkab Gunungkidul juga menyediakan fasilitas padusan berupa pipa paralon sepanjang 20 meter dengan lebih dari 20 lubang pancuran. Pancuran ini ditujukan bagi warga yang enggan mandi langsung di laut. Setelah semua prosesi adat selesai, baik warga maupun wisatawan rame-rame melakukan padusan di pancuran itu.
"Kami ingin mengedukasi bahwa pantai adalah ruang publik yang ramah wisatawan. Tradisi ini menggabungkan budaya dan agama, sekaligus menjadi wujud toleransi antarumat beragama,” tambahnya.
Padusan tahun ini, lanjut Endah, juga bertepatan dengan momentum Tahun Baru Imlek bagi umat Konghucu dan Buddha. Ia mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai sarana membangun karakter dan budi pekerti luhur, selaras dengan semangat Pancasila.
Di balik nilai spiritualnya, tradisi ini membawa dampak ekonomi signifikan. Ribuan pengunjung yang memadati kawasan Pantai Sundak mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). "Kita bisa melihat pelaku UMKM dan pedagang pesisir merasakan langsung perputaran ekonomi yang meningkat selama acara berlangsung,” tegas Endah.
Prosesi ditutup dengan larungan ke arah laut sebagai simbol pelepasan segala hal buruk agar terhanyut ombak. Saat matahari mulai condong ke barat, warga kembali ke rumah masing-masing dengan harapan baru yang segar, hati yang bersih, dan kesiapan menapaki ibadah Ramadan selama sebulan penuh. (bas/laz)
Editor : Herpri Kartun