GUNUNGKIDUL - Kabupaten Gunungkidul memasuki masa panen raya padi pada Februari 2026. Luas tanam padi yang mulai dipanen tercatat mencapai 42.723 hektar, didukung berbagai bantuan pemerintah berupa pupuk bersubsidi, benih unggul, hingga alat mesin pertanian (alsintan) modern guna meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Puji Astuti mengatakan, bantuan yang diterima petani selama ini berperan penting dalam mendukung produktivitas padi di berbagai wilayah.
“Berbagai dukungan pemerintah, mulai dari pupuk bersubsidi, benih padi, hingga alsintan modern, sangat membantu petani dalam meningkatkan produksi dan efisiensi usaha tani,” ujarnya saat ditemui di Wonosari pada Selasa, (10/2/2026).
Baca Juga: Frogs Indonesia Gandeng Teknik Industri UAD Perkuat Pengembangan Industri Drone
Di Kapanewon Semin, kata dia, panen padi pada Februari 2026 mencapai 3.797 hektar, disusul panen lanjutan pada Maret seluas 267 hektar. Untuk mendukung kegiatan pertanian di wilayah tersebut, pemerintah telah menyalurkan sejumlah alsintan, antara lain dua unit combine harvester, dua unit traktor roda empat, dua unit traktor roda dua, satu unit mesin crawler, serta dua unit mesin transplanter.
Selain itu, alokasi pupuk bersubsidi di Kapanewon Semin juga cukup besar, yakni 1.313 ton pupuk Urea dan 1.187 ton pupuk NPK Phonska. Dukungan tersebut turut mendorong hasil panen yang menggembirakan.
Ia mencontohkan, di Bulak Tahunan, Kalurahan Bulurejo, luas tanam padi mencapai 20 hektar dengan varietas Inpari 32, Inpari 42, Mapan 05, dan Ciherang. Hasil ubinan menunjukkan produktivitas rata-rata 7,52 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar.
Baca Juga: Gebyar Aplikasi AHASS (GASS!), Manjakan Konsumen Honda dengan Benefit Promo Servis ke AHASS
“Kira-kira itu setara dengan 6,55 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar,” imbuhnya.
Lebih lagi, panen raya padi Kelompok Tani Sedyo Mulyo Kalurahan Ngawis Kapanewon Karangmojo menghasilkan ubinan padi sebesar 4,47 kilogram per meter persegi atau setara produktivitas 5,78 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar. “Yang dipanen menggunakan varietas Inpari 49,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menegaskan komitmen daerah dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Menurutnya, Gunungkidul terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas strategis seperti padi dan jagung melalui percepatan olah lahan dan tanam pada musim tanam kedua.
Baca Juga: Adaptasi Jadi Bek Kiri, Pemain Asing Yusaku Yamadera Nikmati Peran Lebih Ofensif Bersama PSIM Jogja
“Percepatan ini dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan alat mesin pertanian modern yang telah dibantukan kepada petani,” katanya.
Pada panen raya Februari ini, lanjut Rismiyadi, akan dimaksimalkan menggunakan alsintan combine harvester bantuan pemerintah pusat. Mesin tersebut, menurutnya mampu memanen sekaligus merontokkan padi, sehingga hasil panen langsung berupa gabah yang siap dikemas.
“Penggunaan mesin crawler untuk mengolah lahan pascapanen. Mesin ini dilengkapi pembajak, pencacah, dan perata lahan, sehingga dalam satu kali proses lahan sudah siap tanam kembali,” tegas dia.
Baca Juga: Jelang Laga Kontra Persik Kediri, PSIM Jogja Fokus Recovery di Tengah Ketidakpastian Venue
Selanjutnya, ia mewacanakan penanaman dilakukan menggunakan rice transplanter, yang juga merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Rismiyadi menilai pemanfaatan alsintan modern tersebut mampu menjaga kesinambungan produksi padi di Gunungkidul. Tak hanya itu, Alsintan juga dapat memperkuat kontribusi daerah dalam mendukung ketahanan dan swasembada pangan nasional.
“Teknologi pertanian saat ini sudah semakin modern. Petani harus siap beradaptasi agar proses tanam musim berikutnya bisa lebih cepat, tenaga kerja lebih efisien, dan biaya produksi dapat ditekan,” pungkas Rismiyadi. (bas)
Editor : Heru Pratomo