Selain menyebabkan gagal panen berulang, hama ini berdampak pada beberapa petani beralih profesi. Sementara itu, lahan-lahan produktif berubah menjadi semak belukar.
Petani asal Kapanewon Tanjungsari Pardi Jarak menjadi salah satu yang merasakan dampak paling berat. Ia mengungkapkan bahwa populasi monyet ekor panjang seolah tak dapat dikendalikan dan mampu merusak tanaman dalam hitungan jam.
Menurutnya, monyet ekor panjang hanya butuh waktu dua sampai tiga jam untuk merusak tanaman.
Ia mengaku, lahan pertanian miliknya seluas 6.000 meter di selatan JJLS dibiarkan begitu saja. Sebuah berlangsung dua tahun, kata dia, lahannya itu tidak ia tanami lagi.
Sebab, ia merasa frustasi menghadapi serangan monyet yang merusak tanamannya.
“Jagung dirusak monyet, kacang dirusak, singkong juga sama,” ujar Pardi singkat saat ditemui di lahannya pada Senin, (10/11/2025).
Pardi kini lebih fokus menggarap lahan baru seluas 800 meter yang dibelikan anaknya di kawasan Jalan Pantai Baron.
Menurutnya, lahan tersebut relatif aman dari serangan monyet. Sabab, lokasi lahan di pinggir jalur wisatawan membuat monyet takut mendekat.
Kekeselen Pardi terhadap monyet, membuat ia bekerja keras membiayai pendidikan anak-anaknya agar tidak perlu meneruskan profesinya sebagai petani yang semakin berat.
“Dua tahun saya biarkan begitu saja lahannya,” imbuh dia.
Fenomena serupa terjadi di Kalurahan Tepus. Lurah Tepus Hendro Pratopo menyebut, sejumlah petani di wilayahnya memilih berhenti menanam akibat serangan monyet yang tak kunjung mereda.
Bahkan, kata dia, beberapa petani di Kalurahan Tepus memilih alih profesi. Hendro mengaku, kini warganya memilih menjadi buruh proyek harian.
Baca Juga: Diusulkan sejak 2010, Soeharto Akhirnya Resmi Sandang Gelar Pahlawan Nasional
“Lahannya dibiarkan bertahun-tahun sampai jadi semak. Banyak yang akhirnya beralih menjadi buruh atau kerja proyek.”
Menurut Hendro, hampir seluruh petani di Kalurahan Tepus terdampak, terutama pada berkurangnya hasil panen.
Pemerintah sempat mencoba berbagai upaya, mulai dari pemasangan jaring, program penanaman bibit buah sebagai sumber pakan satwa, hingga penyediaan dua titik pemberian makan monyet setiap dua hari sekali. Namun, ia menilai efektivitasnya masih terbatas.
“Monyet itu tersebar hampir merata di wilayah pertanian, jadi dua titik saja jelas kurang. Ini solusi jangka pendek, belum menyentuh akar masalah,” ujarnya.
Saat musim tanam kembali tiba, warga berupaya bertahan dengan memperbaiki jaring dan menjaga lahan dari pagi hingga petang.
Meski demikian, hasil panen tetap menurun. Menurutnya, serangan monyet ekor panjang kini tak hanya dianggap sebagai persoalan hama pertanian, tetapi juga ancaman bagi ketahanan ekonomi keluarga petani.
“Tidak sampai gagal panen total, tapi hasilnya berkurang. Itu jelas memengaruhi pendapatan warga,” tambah Hendro. (bas)
Editor : Bahana.