Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar Bertahan Hidup di Kawasan Karst ala Warga Siyono, Gunungkidul, Konsumsi Berbagai Jenis Serangga

Yusuf Bastiar • Minggu, 13 Juli 2025 | 15:05 WIB
Ida dan tim Tour De Ngalas sedang memandu wisatawan berjalan menyusuri Goa Buh Kuning yang terletak di Dusun Siyono, Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop Gunungkidul.
Ida dan tim Tour De Ngalas sedang memandu wisatawan berjalan menyusuri Goa Buh Kuning yang terletak di Dusun Siyono, Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop Gunungkidul.

 

 

GUNUNGKIDUL - Di tengah geliat industri pariwisata yang kerap mengejar keindahan visual dan gemerlap destinasi unggulan, sebuah inisiatif di Gunungkidul menawarkan sesuatu yang berbeda.

Namanya Tour De Ngalas, sebuah bentuk wisata alternatif yang lahir dari kesadaran warga dusun untuk memperkenalkan pengetahuan lokal, menjaga kedaulatan desa, dan menghidupkan relasi manusia dengan alam.

Bermula dari riset kecil-kecilan, pemuda  Dusun Siyono, Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop Gunungkidul, Ida Mandalawangi, menemukan bahwa desa mereka menyimpan berbagai potensi yang selama ini luput dari radar promosi wisata resmi.

Tak ada air terjun menjulang atau spot swafoto ikonik. Namun, mereka memiliki sesuatu yang lebih mendalam, yakni cara bertahan hidup di kawasan Karst Gunungkidul ujung selatan.

“Kami tidak punya destinasi unggulan. Tapi di sini, ada kehidupan yang bisa dipelajari,” tutur Ida Mandalawangi Saat ditemui di Laboratorium Sedusun pada Jumat, (11/7).

Dari sini, para tamu wisata diajak menyusuri ladang, mengenal sistem pertanian tumpang sari, dan menyaksikan warga mengelola air secara turun temurun. Bahkan, wisatawan bisa mencicipi pangan lokal hasil panen mangsa sesuai musim.

Tak sekadar mencicipi, tetapi turut belajar bagaimana pangan itu diproses, disimpan, hingga diwariskan melalui benih benih lokal yang dijaga oleh para simbok. “Hampir semua jenis serangga kita konsumsi di sini,” cerita Ida sembari tersenyum.

Gunungkidul tidak bisa dipahami tanpa memahami bentang karstnya. Kawasan selatan yang didominasi pegunungan karst, kata Ida, cenderung kering. Meski demikian, kondisi ini justru membentuk cara hidup warga dusun yang khas dengan memanfaatkan sungai bawah tanah, menampung air hujan, dan menjaga telaga.

Wisatawan diperkenalkan dengan konsep resan. Pohon-pohon beringin besar yang dianggap sebagai penjaga air. Dalam praktik nglangsih, warga menutup batang pohon resan dengan kain mori putih sebagai simbol bahwa pohon tersebut sedang dipelihara.

Itu bukan sekadar tradisi, tapi bentuk ekologi spiritual yang mengakar. Dalam semangat ini, Tour De Ngalas yang digagas Kolektif Sedusun, Ida sengaja memperkenalkan wisata bukan sebagai tontonan.

Tetapi, proses pembelajaran merawat dan meruwat pengetahuan lokal “Dusun memang tempat kecil, tapi segalanya berasal dari dusun,” tegas Ida.

Meski sudah berjalan dua tahun, Tour De Ngalas tak punya jadwal tetap. Mereka mengikuti siklus alam: mongso panen jagung, kacang, atau musim tanam menjelang hujan. Para wisatawan datang, berjalan dari ladang ke rumah warga. Makan makanan yang dimasak sesuai musim dan ikut dalam aktivitas harian.

Ida mengaku sempat menemui wisatawan yang tak mengerti betuk pohon padi atau jagung. Bagi warga, itu bukanlah aib. Justru itulah titik mula percakapan. Wisata ini kemudian menjadi ruang perjumpaan antara urban dan rural. Antara yang ingin tahu dan yang ingin berbagi.

Tak hanya itu, Ida juga akan mengajak tamu wisatanya berjalan menyusuri goa, luweng, hingga telaga. Dari sinilah ia akan menceritakan bagaimana fungsi resan dalam menjaga sumber mata air bagi masyarakat Karst Gunungkidul.

Ida, sengaja membuat konsep wisata alternatif yang tak dibuat-buat. Apa adanya, tapi justru bermakna. Konsep ini, tak hanya menyuguhkan seabrek kekayaan desa. Wisatawan juga diajak menyelami pengetahuan warga desa.

“Wisata bloko suta, apa adanya, belajar dari yang tumbuh di atas tanah, lalu kita merawat dan menyebarluaskannya,” ujar Ida.

Selama dua tahun berjalan, Tour De Ngalas membatasi peserta maksimal 25 orang per perjalanan. Dari mahasiswa Jogja, komunitas asal Surabaya, bahkan ada wisatawan mancanegara dari Jepang hingga Inggris. Semua mengalami hal yang sama, menjadi bagian dari desa, meski hanya sehari atau dua hari.

Di sini, menurut Ida, wisata adalah tentang kedekatan, bukan jarak. Tentang belajar menghargai air, memahami siklus tanam, dan tahu kapan harus diam mendengar mitos yang lahir dari tanah.

Tour De Ngalas bukan sekadar alternatif. Ia adalah pengingat bahwa desa-desa di Indonesia menyimpan pengetahuan besar dalam keseharian yang tampak sederhana.

Sebuah undangan untuk berjalan pelan, mendengar lebih dalam, dan mungkin, untuk pulang dengan cara yang berbeda membawa pengetahuan desa. Kemudian, diterapkan dalam keseharian orang-orang kota. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#petir #serangga #bertahan hidup #Gunungkidul #siyono #goa #Wisatawan #Tour