GUNUNGKIDUL - Fenomena wabah ulat jati berjatuhan di lingkungan warga hingga di sejumlah ruas jalan di Gunungkidul. Bagi sebagian orang ulat tersebut nampak menggelikan. tapitidak sedikit warga menjadikan ulat itu menjadi santapan.
Seperti yang dilakukan oleh warga di Padukuhan Mokol, Kalurahan Selang, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Dengan adanya fenomena wabah ulat jati, mereka berburu ulat di pohon jati dan johar. Ulat berwarna hijau maupun hitam terlihat pada permukaan daun pohon jati. Warga mengambil ulat tersebut lalu dimasukan ke dalam plastik.
Salah seorang warga Ratih mengatakan, aktivitas berburu ulat jati dilakukan secara musiman. Sebab, mulai mewabah ketika pohon-pohon jati mengeluarkan daun muda. "Kami ambil kepompong atau ulat yang berwarna hijau dan hitam," ujar Ratih, Selasa (19/11).
Warga hanya mengambil ulat yang masih berada pada ranting maupun daun pohon. Ulat tersebut dapat disajikan menjadi hidangan dengan beragam olahan. Usai mengumpulkan gerombolan ulat jati ke dalam plastik, ulat tersebut kemudian dibawa ke rumah dan dicuci menggunakan air panas. "Selesai dicuci bersih, ulat bisa diolah dengan cara digoreng maupun menjadi sayur bacem, rasanya gurih walaupun sedikit alot," tuturnya.
Ulat jati dapat menjadi lauk sehari-hari. Bahkan, dapat dijual dengan harga Rp 100 ribu per-kilogramnya. Kepala Balai Kesatuan Pengelola Hutan Jogjakarta Sabam Bennydictus Silalahi menjelaskan, hutan jati di Gunungkidul menjadi habitat ulat jati. Kemunculan daun muda Pohon Jati memicu munculnya populasi ulat tersebut.
"Biasanya muncul pada peralihan musim diikuti dengan dedaunan muda dari Pohon Jati sehingga Ulat Jati dengan jumlah yang banyak bermunculan pada permukaan daun," ujar Benny saat dihubungi.
Mewabahnya binatang tersebut, disebabkan adanya kawasan hutan jati di Gunungkidul. Benny memaparkan, luasan kawasan hutan Jati seluas 16 ribu hektar yang dikelola langsung oleh Balai KPH Jogjakarta. "Mewabahnya ulat jati memang sudah menjadi siklus dari tanaman tersebut, akan tetapi tidak berbahaya bagi masyarakat," jelasnya.
Wabah ulat jati, kata Benny, justru disenangi oleh masyarakat karena menjadi santapan. Ditambah lagi, kandungan protein pada ulat tersebut cukup tinggi.
Fenomena mewabahnya Ulat Jati di Gunungkidul membuat wisatawan merasa ketakutan. Sebab, di sejumlah ruas jalan menuju ojek wisata pantai selatan, seringkali ditemui ulat tersebut berjatuhan dari atas pohon.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul Supriyanta mengatakan, wisatawan sebaiknya mengenakan pakaian yang menutupi tubuh untuk mengurangi resiko kontak langsung dengan ulat. "Karena dapat menyebabkan iritasi kulit atau alergi bagi orang yang memiliki kulit sensitif," ujar Supriyanta.
Untuk berjaga-jaga, kata Supriyanta, wisatawan dapat membawa salep anti alergi saat berkunjung ke sisi Selatan Gunungkidul. Namun begitu, dia memastikan, wisata di Gunungkidul tetap aman meskipun adanya wabah ulat jati. (ndi/pra)
Editor : Heru Pratomo