Mengenal Impact Meter, Platform Mengukur Investasi Dampak Sosial Perusahaan: Lengkapi Data-data ESG dari Faktor Sosial
Meitika Candra Lantiva• Jumat, 11 Juli 2025 | 05:03 WIB
Dyah Putri Utami selaku Head Communication and Partnership Impact Meter sedang menjelaskan dampak investasi sosial pada ESG, rangkaian kegiatan ISRA, Kamis (10/7/2025)
SLEMAN - Impact Meter hadir dalam agenda panel diskusi Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025.
Impact Meter merupakan platform yang menyediakan layanan untuk mengukur investasi sosial dampak sosial yang dihasilkan dari program-program perusahaan, organisasi, LSM, dan masyarakat.
Bagaimana aktivitas pemberdayaan maupun suatu program perusahaan membawa impact keberlanjutan bagi sosial.
"Kami membuat layanan untuk bisa mengukur dampak sosialnya," ujar Dyah Putri Utami selaku Head Communication and Partnership Impact Meter, di Alana Hotel & Convention Center, Kamis (10/7/2025).
Menurutnya, pengukuran dampak ini masih awam di Indonesia.
Sehingga, pihaknya membuka akses pengukuran dampak yang lebih open kepada berbagai kalangan supaya mereka itu bisa mempublikasikan dampak-dampak sosial yang positif, yang pernah dilakukan.
"Nah, kita itu membuka akses. Kalau dihubungkan dengan ESG (Environmental, Social, and Governance) ini pengukuran dampaknya, yakni dampak sosial. Mendukung faktor S dari "ESG", salah satunya diukur dari impact meter," ujarnya.
Dengan prinsip SROI (Social Return on Investment), bisa digunakan untuk melengkapi data-data ESG dari segi faktor sosialnya.
Menurutnya, sejauh ini program perusahaan menyadari pentingnya mengukur dampak sosial.
Akan tetapi, mayoritas hanya dilakukan oleh perusahaan dengan sumber daya keuangan yang besar.
Demikian juga penggunaannya belum optimal. Karena beberapa perusahaan mengukur dampak investasi sosial hanya untuk formalitas, memenuhi kebutuhan data.
"Nah, kita mendorong pengukuran dampak itu didasari oleh rasa ingin mengetahui seberapa besar dampak kepada masyarakatnya. Bukan sekedar formalitas. Itu untuk perusahaan besar," terangnya.
Untuk program-program yang skalanya menengah ke bawah, seperti dilakukan Non-Governmental Organization (NGO) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kecenderungan memiliki dampak-dampak yang bisa diukur.
Tetapi tidak punya ases dan finansial untuk membiayai pengukuran dampak yang biasanya mahal.
"Kalau pengukuran dampak dengan SROI ini biasanya dengan konvensional itu bisa Rp 100 juta.
Tetapi kalau di kami itu bisa hemat lebih banyak lah, hampir 48 persen," katanya.
Disebutkan beberapa perusahaan yang biasa ditangani analisis dampak sosialnya yaitu CSR, maupun perusahaan dari pemerintah seperti badan usaha milik negara (BUMN).