Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Dolar AS Tembus Rp18.089

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.
Berdasarkan laporan perdagangan pagi, rupiah dibuka pada level Rp18.089 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.
Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Kekhawatiran terhadap meningkatnya konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap pasar keuangan dan menjadi perhatian investor dalam menentukan arah investasinya.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian bagi negara yang bergantung pada impor energi. Perubahan harga komoditas tersebut dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan impor dan kondisi ekonomi, meskipun dampaknya terhadap nilai tukar tidak berdiri sendiri dan dipengaruhi berbagai faktor lainnya.
Selain sentimen global, pergerakan rupiah juga dibayangi arus keluar modal asing dari pasar saham domestik. Ketika investor mengurangi kepemilikan aset di pasar keuangan Indonesia, kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap pasar dan memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Perkembangan tersebut membuat arah rupiah masih perlu dicermati sepanjang perdagangan. Meski dibuka melemah, posisi pada awal sesi belum menggambarkan hasil akhir perdagangan karena nilai tukar dapat berubah mengikuti perkembangan pasar dan respons investor terhadap informasi ekonomi maupun geopolitik.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena nilai tukar berpengaruh terhadap transaksi ekonomi yang menggunakan mata uang asing. Bagi pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku atau barang impor, perubahan kurs dapat memengaruhi perhitungan biaya pembelian. Masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS juga perlu memperhatikan perubahan nilai tukar.
Namun, pelemahan pada pembukaan perdagangan tidak serta-merta berarti rupiah akan terus turun hingga penutupan. Pergerakannya tetap bergantung pada kondisi pasar, aliran modal, serta perkembangan faktor eksternal dan domestik selama perdagangan berlangsung.
Dengan demikian, posisi rupiah pada Senin pagi menjadi gambaran awal tekanan yang dihadapi mata uang Indonesia di tengah ketidakpastian global. Perkembangan selanjutnya perlu dilihat dari pergerakan kurs sepanjang hari untuk mengetahui apakah tekanan tersebut berlanjut atau mulai mereda.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




