Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

ROS Gunungkidul, Ruang Seni Mahasiswa UGK: Merawat Identitas Lokal dari Kampus tanpa Jurusan Seni  

Yusuf Bastiar • Minggu, 28 Desember 2025 | 15:25 WIB

 

UKM ROS Gunungkidul Universitas Gunungkidul sedang latihan pertujukan bertajuk Tari Ketiga.
UKM ROS Gunungkidul Universitas Gunungkidul sedang latihan pertujukan bertajuk Tari Ketiga.

GUNUNGKIDUL – Ketiadaan jurusan seni di Universitas Gunungkidul (UGK) tak lantas menyurutkan hasrat mahasiswa untuk berkesenian.

Justru keterbatasan itu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ROS Gunungkidul lahir dan berkembang sebagai wadah ekspresi seni lintas disiplin yang berakar kuat pada identitas lokal Gunungkidul. ROS Gunungkidul resmi berdiri pada Februari tahun ini.

Ketua UKM ROS Gunungkidul Mufid Mazidi mengatakan, komunitasnya menjadi tempat berkumpul mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik mulai teknik sipil, administrasi, ekonomi, hingga pertanian yang memiliki kegemaran pada seni.

 Baca Juga: Tiga Perjalanan KA Commuter Ditambahkan, Antisipasi Kepadatan Penumpang pada Momen Nataru

“ROS Gunungkidul ini UKM kesenian. Kami berkumpul meskipun bukan anak seni dan tidak punya latar belakang pendidikan seni. Di UGK memang tidak ada jurusan seni secara spesifik, tapi kebutuhan untuk berkesenian itu ada,” ujar Mufid saat ditemui di Sanggar Oyod Ringing Jumat (26/12/2025).

Ia menjelaskan, ROS menjadi ruang pertemuan imajinasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya.

Bidang seni yang digarap pun beragam, mulai seni rupa, musik, pertunjukan, hingga sastra.

Sejak berdiri, ROS rutin menggelar aktivitas kesenian di lingkungan kampus. Seperti diskusi, pameran, hingga pertunjukan yang juga sempat tampil dalam rangkaian wisuda UGK tahun ini.

Aktivitas tersebut mendapat respons positif dari civitas akademik maupun masyarakat sekitar. 

“Banyak dosen dan warga yang heran sekaligus tertarik. UGK tidak punya jurusan seni, tapi kegiatan keseniannya justru aktif,” jelasnya.

 Baca Juga: Pebecak Lansia di Kota Magelang Dapat Becak Listrik dari Presiden, Didorong Jadi Kendaraan Wisata

Saat ini ROS Gunungkidul memiliki sekitar 100 anggota, dengan tingkat keaktifan sekitar separuhnya.

Menurut Mufid, kesenian bagi mahasiswa UGK bukan sekadar penyaluran hobi, melainkan juga cara menetralkan kepenatan akademik di tengah tuntutan tugas kuliah dan target penulisan jurnal.

Lebih dari itu, kesenian dijadikan medium refleksi dan pengingat identitas. Sebab, lanjut dia, hampir seluruh mahasiswa UGK merupakan warga asli Gunungkidul.

 Baca Juga: Pendaki Perempuan Tewas Tersambar Petir di Gunung Merbabu Kabupaten Magelang, Sempat Terkendala saat Proses Evakuasi

“Kami tidak ingin mahasiswa terjebak pada slogan heroik sebagai agen perubahan yang berjarak dengan kehidupan warga. Lewat seni, kami merawat kesadaran bahwa kami adalah orang Gunungkidul,” tegasnya.

Hal tersebut tercermin dalam karya-karya ROS yang kerap mengangkat tema lokalitas: petani, tanah, batu, kelangkaan air, pertanian yang terhimpit pariwisata, hingga keseharian warga desa.

“Banyak teman-teman yang pulang kuliah masih mencari rumput untuk ternak. Semangat itu yang kami jaga, agar tidak jumawa sebagai mahasiswa,” imbuhnya.

 Baca Juga: Kecelakaan Lalu Lintas di Gunungkidul Naik, Pelanggaran Justru Menurun: Penyebab Kecelakaan Didominasi akibat Human Eror

Upaya merawat ingatan kolektif itu salah satunya diwujudkan lewat pameran bertajuk “Gunungkidul Arane” yang digelar Agustus lalu. Pameran tersebut menjadi ruang membaca ulang kebudayaan Gunungkidul dari sudut pandang warganya sendiri.

“Kami ingin mendeskripsikan diri kami sendiri, bukan dideskripsikan orang lain,” terangnya.

Wakil Ketua ROS Gunungkidul Vidani Sunja mahasiswa Teknik Sipil semester V menambahkan, kemunculan ROS berangkat dari keresahan akan minimnya ruang ekspresi kreatif di kampus.

Sebelumnya, di UGK sudah terdapat beberapa UKM, tapi ruang berekspresi seni secara bebas belum tersedia. “Dari kebutuhan itulah ROS Gunungkidul kami bentuk,” bebernya.

Meski tak berlatar belakang seni, Vidani menilai disiplin ilmu akademik justru memberi warna dalam proses penciptaan karya.

“Teknik sipil, administrasi, ekonomi, pertanian, semua berperan dalam perumusan konsep maupun eksekusi teknis. Soal ide, itu persoalan imajinasi yang semua orang punya,” tambahnya.

Ke depan, ROS Gunungkidul berkomitmen terus menjadikan seni sebagai medium pembicaraan tentang identitas Gunungkidul, baik melalui karya, pertunjukan, maupun diskusi. “Kami akan terus membicarakan dan mempertahankan identitas itu,” imbuh Vidani. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Universitas Gunungkidul #Identitas Lokal #Mahasiswa #UGK #ROS Gunungkidul #ruang seni