Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kembangkan Jamu Targetkan 10 Besar PPD

Editor Content • Selasa, 22 Maret 2022 | 16:47 WIB
Abdul Halim Muslih.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
Abdul Halim Muslih.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Bumi Projotamansari masuk dalam 16 besar kabupaten dengan perencanaan pembangunan daerah (PPD) terbaik se-Indonesia. Pemerintah kabupaten (pemkab) terus berupaya kejar perbaikan. Salah satunya melalui program pengembangan jamu.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan, siap melakukan segala upaya untuk memperbaiki semua aspek. Demi mewujudkan Bantul masuk 10 besar dan meraih tiga besar kabupaten dengan PPD terbaik se-Indonesia. “Kami akan menjadi yang terbaik dan memiliki dampak baik bagi masyarakat,” cetusnya diwawancarai usai penilaian PPD Nasional dari Gedung Induk Parasamya Bantul kemarin (21/3).

Dijelaskan, tingkat PPD terbaik ditentukan oleh korelasi masalah dan pemecahannya di lapangan. Hal itu akan diteliti oleh tim penilaian dari pemerintah pusat saat Bantul ditetapkan masuk sepuluh besar. “Andalan, punya banyak sekali banyak inovasi, tapi karena terbatas waktu mereka minta satu. Kami memaparkan jamu, Seroja,” sebutnya.

Dibeberkan, Seroja merupakan akronim dari sehat perekonomian karo (dengan) jamu. Dipilihnya jamu sebagai sektor unggulan, karena peningkatan penjualannya yang tinggi selama pandemi Covid-19. Tapi ternyata, produsen jamu masih harus memasok bahan bakunya dari luar Bantul. Untuk itu, direncanakan pengembangan pertanian biofarmaka di Dlingo dan Imogiri.

Sehingga kebutuhan bahan baku jamu tidak perlu didatangkan dari luar Bantul. “Ada beberapa desa lain untuk produksi jamu (selain Kiringan, Red). Dlingo dan Imogiri akan kami jadikan suplier bahan baku,” bebernya.

Salah satu pengusaha jamu di Padukuhan Kiringan, Jetis, Bantul adalah Nur Kholis. Bersama istrinya, Unun Matoyah memproduksi aneka bubuk jamu instan, teh jamu, dan wedang uwuh siap seduh. Tapi, rempah-rempah yang digunakan untuk membuat wedang uwuh, mayoritas diperoleh dari luar Bantul. “Seperti kapulaga, cengkeh, kayu manis, dan secang saya ambil di Pasar Beringharjo,” paparnya.

Ayah tiga putra ini pun membeberkan, kerap kesulitan mencari asam jawa. Sehingga juga harus memenuhi kebutuhannya dengan mendatangi Pasar Beringharjo. Padahal, sedianya dapat diperoleh dari pengepul di wilayah Kasihan, Bantul. “Tapi paling pokok, bahan untuk wedang uwuh yang harus ke Pasar Beringharjo,” sebutnya.

Sementara rempah-rempah yang mudah didapat, umumnya merupakan bahan baku jamu peras dan jamu instan. Antara lain, temulawak, kencur, jahe, temu hitam, kunyit, kunyit putih, dan jeruk nipis. Lantaran petaninya berasal dari wilayah Bantul, seperti Imogiri, Pleret, Mangunan, Dlingo, dan Siluk dan Banguntapan. “Jadi kami masih bisa mencukupi pengambilan bahan baku masih dari Bantul,” ucapnya.

Terpisah, Kepala DKUKMPP Bantul Agus Sulistiyana menyebut sentra jamu di Bantul merupakan potensi yang luar biasa. Agus kemudian menyayangkan, ketersediaan petani yang minim. Sehingga pengusaha minuman herbal harus mencari bahan baku ke luar Bantul. “Kalau bicara tentang kolaborasi, mohon support pertanian,” tegasnya.

Agus percaya, Bantul merupakan lahan yang subur. Sehingga tanaman bahan baku jamu, semestinya dapat dibudidayakan. Modalnya pemberdayaannya, dapat menggunakan dana dari koperasi milik BUMD atau BUMKal. “Coba uang tersebut dimanfaatkan untuk memodali petani agar menanam tanaman jamu yang kemungkinan besar bisa tumbuh,” tandasnya. (fat/bah) Editor : Editor Content
#jamu