BANTUL - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) DIY melakukan pengawasan takjil di Pasar Bantul. Lantaran pada bulan Ramadan, penjual cenderung menyediakan menu berbuka puasa yang beragam.
"Tentu saja ini harus dibarengi dengan kewaspadaan karena memberikan peluang nanti makanan yang tidak aman beredar di masyarakat," jelas Pengawas Farmasi dan Makanan BBPOM DIY Wulandari saat ditemui di Pasar Bantul Rabu (25/2).
Pihaknya melakukan uji sampel takjil berupa mochi warna merah, jeli, cincau, bakmi, agar-agar, bakso, tahu, es buah, dan udang keju.
Sampel takjil tersebut dilakukan pengujian pewarna yang berbahaya dan formalin sebagai pengawet. Hasilnya negatif, tidak ditemukan bahan berbahaya.
"Kita menggunakan alat yang namanya rapid test kit jadi nanti kita langsung bisa tau hasilnya," katanya.
Meskipun demikian, BBPOM DIY sebelumnya pernah menemukan makanan lempeng gendar yang mengandung boraks atau bleng. "Kita anjurkan masyarakat untuk menggunakan kanji yang lebih aman," lanjutnya.
Ia mengatakan, jika masyarakat mengonsumsi bahan berbahaya dapat menggangu kesehatan. Bahan berbahaya yang dikonsumsi dapat mengendap di organ tubuh dan mengganggu fungsi hati, otak, serta ginjal.
"Selanjutkan kita akan lakukan pengawasan ke Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, untuk lokasinya kita koordinasi dengan dinkes di wilayah masing-masing kabupaten," tuturnya.
Ia mengimbau, kepada masyarakat untuk cermat dalam membeli makanan. Jika dicurigai adanya warna yang mencolok, rasanya getir, tidak mudah hancur atau baunya dicurigai menyengat, perlu waspada. Bisa jadi makanan tersebut mengandung bahan berbahaya.
"Makanan yang tercemar itu ada tiga bisa dari bahan kimia bahaya fisik dan bahaya mikro biologi, agar badan sehat harus makan yang aman bebas dari tiga bahaya tersebut," jelasnya.
Sementara itu, penjual jajan pasar Wahyudi, 55, mengaku senang BPOM DIY melakukan pengawasan takjil di Pasar Bantul. Sebab, jika keamanan makanan terjaga, pembeli juga tidak perlu khawatir untuk membeli dagangannya.
"Setiap tahun ada pengawasan, bahkan ada yang diberi sampelnya alhamdulillah aman," tuturnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita