BANTUL – Pemerintah Kabuapten (Pemkab) Bantul melakukan ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran di Kapanewon Pleret, Bantul pada Kamis (7/3).
Pembangunan ITF pusat karbonasi itu untuk mengejar target kemandirian pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul.
ITF Bawuran ditargetkan akan rampung pada akhir April 2024 dan akan mengolah sampah 70 ton per hari.
Dalam pembangunannya, Pemkab Bantul menggandeng perusahaan milik daerah (Perumda) Aneka Dharma.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, ITF Bawuran dapat mengolah sampah hingga 70 ton sampah per hari.
Dari pengolahan sampah tersebut, diperkirakan sekitar 30 persennya menghasilkan sampah high value yang dapat diolah menjadi produk lainnya.
Kemudian, sisa pengolahan sampah tersebut berupa sampah yang low value atau sudah tidak dapat diolah menjadi produk turunan. Maka, akan dimusnahkan dengan incinerator.
“Dari ITF ini juga nantinya akan menghasilkan nilai ekonomi yang semakin tinggi,” katanya, Kamis (7/3).
Menurut Halim, sampah anorganik akan didaur ulang menjadi panel papan untuk bahan baku furniture, pipa PVC, bahkan beberapa sampah diubah menjadi barang upcycle.
Sementara hasil olahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) akan digunakan sebagai bahan bakar industri semen di Cilacap.
"Hasil pengolahan sampah di Bantul akan beragam. Kami masih merancang bagaimana dari hasil produksi sampah ini menjadi listrik, kami tunggu sama Aneka Dharma tahap demi tahap menuju ke sana,” ujarnya.
Pemkab Bantul menargetkan Bantul bersih sampah tahun 2025. Pembangunan ITF Bawuran dan beberapa TPST lainnya dilakukan sebagai upaya Pemkab Bantul mengolah sampahnya secara mandiri.
Halim menyampaikan, Bantul akan melakukan pengelolaan sampah secara mandiri dan bisa menyelesaikan lalu mengolah sendiri sampah yang dihasilkan di Bantul.
Bahkan, mengolahnya menjadi sumber daya ekonomi baru yang bernilai tinggi.
“Dari sampah organik bisa ditransformasi menjadi kompos, magot dan beberapa produk lainnya,” jelasnya.
Di samping itu, Pemkab Bantul saat ini sedang membangun pusat-pusat pengolahan sampah lain. TPST Modalan dan TPST Dingkikan saat ini sedang dalam proses pembangunan.
Di mana, masing-masing direncanakan berkapasitas 40 ton sampah per hari.
Selain itu, Pemkab Bantul juga menggencarkan pengolahan sampah di setiap kalurahan dengan menggandeng Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di beberapa kalurahan.
“Kami juga sedang menyiapkan pembangunan TPST pada skala kalurahan. Maka dari itu, kami optimistis di tahun 2025 Bantul benar-benar bisa bersih dari sampah,” tegas Halim.
Direktur Utama PD Aneka Dharma Yuli Budi Sasangka menyampaikan, pengolahan sampah di ITF Bawuran telah mengantongi sertifikat lolos uji emisi.
Ia menjamin pengolahan sampah di sana tidak akan menimbulkan emisi bagi lingkungan.
“ITF Pusat Karbonasi Bawuran dengan teknologi modern dan telah mendapatkan sertifikat lolos uji emisi, sehingga tidak menimbulkan asap hitam lagi,” jelasnya.
Ia membeberkan, sampah yang masuk di ITF Bawuran akan dilakukan pemilahan.
Sampah yang memiliki high value seperti plastik dan rongsok akan dipisah dan didaur ulang. Kemudian untuk sampah low value akan dikarbonasi.
Dari sisa karbonasi itu akan menghasilkan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA). Semacam abu halus yang bisa digunakan utnuk campuran batako dan campuran pengerasan jalan.
“Karboniasi sendiri adalah pembakaran tanpa asap, jadi melalui proses insinerasi dengan teknologi yang modern. Sudah lolos sertifikat uji emisi dan pembakarannya smokeless,” bebernya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad