RADAR JOGJA - Bantul merupakan salah satu kabupaten yang ada di Yogyakarta.
Kabupaten Bantul memiliki 17 kapanewon (kecamatan) dan 75 kalurahan.
Bagi warga luar Bantul maupun DIY, mungkin terasa asing mendengar penyebutan nama-nama wilayah yang ada di Bantul.
Dilansir dari laman resmi desa berikut tiga nama daerah unik di Kabupaten Bantul, beserta sejarah singkatnya...
1. Kalurahan Canden
Sejarah berdirinya Desa Canden cukup panjang diawali dengan adanya penggabungan dari tiga kelurahan yang ada pada waktu itu yaitu disebelah utara adalah kelurahan Sanggrahan yang terbentuk sebelum tahun 1933.
Kemudian disebelah tengah yaitu kelurahan Suren dan disebelah selatan adalah kalurahan Gadungan.
Pada perkembanggannya ketiga kelurahan tersebut digabung menjadi satu pada tahun 26 november 1946 menjadi Kelurahan Canden.
Menurut kamus Aceh, Canden berarti cantik jelita.
Kalurahan Canden terletak di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
2. Kalurahan Dlingo
Dlingo berasal dari kata Delengo (lihatlah) hal ini terjadi disaat Ki ageng Perwito Sidiq mengungkap adanya tumurunnya Ratu Kencono di sebuah bukit Gunung Pasar melalui sebuah Bokor Kencono di Desa Krendetan, Delanggu.
Hal ini didasari lelaku ki Ageng Giring III untuk meraih kamulyan dengan menggiring wahyu keprabon dari Majapahit (malang).
Desa Dlingo yang pada mulanya merupakan daerah inclave Imogiri yang menginduk ke kasunanan Surakarta.
Menurut Undang-undang Darurat nomor 5 tahun 1957 daerah enclave Imogiri (Surakarta) dan Kotagede (Surakarta) telah dimasukkan kedalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Kalurahan Terong
Kalurahan Terong berada di Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kebanyakan orang pasti mengira jika Terong adalah sayur yang memiliki warna hijau atau ungu.
Dalam sejarahnya, saat terjadi geger Suroyudo di Kerajaan Mataram, salah seorang prajurit yang bernama Ki Potrojiwo menyingkir ke bagian timur wilayah kerajaan Mataram.
Prajurit tersebut membawa serta isteri dan seorang anak perempuannya yang bernama Nyi Jopotro dan cucu laki-lakinya yang bernama Trononggo, anak dari Nyi Jopotro.
Setelah Ki Potrojiwo meninggal dan dimakamkan di Gunung Sentono di wilayah Piyungan, Nyi Jopotro bersama Trononggo menyingkir lebih ke timur lagi dari wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram.
Mereka masuk hutan belantara, naik ke gunung yang sekarang disebut Cinomati dan sampailah di sebuah wilayah yang hanya ada semak belukar di tumbuhi tanaman liar terong hutan.
Tempat tersebut oleh Nyi Jopotro dinamai sebagai Alas Terong .
Editor : Bahana.