Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dewan Soroti Pembangunan Jaringan Fiber Optik di Bantul, Infrastruktur IT Dinilai Belum Jadi Prioritas Pemkab

Gregorius Bramantyo • Kamis, 21 Desember 2023 | 01:35 WIB
Petugas Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Bantul sedang melayani warga dengan aplikasi layanan publik di kantor Kalurahan Jagalan, Rabu (20/12). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
Petugas Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Bantul sedang melayani warga dengan aplikasi layanan publik di kantor Kalurahan Jagalan, Rabu (20/12). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)



BANTUL – Dari 75 kalurahan yang ada di Kabupaten Bantul, baru 38 kantor kalurahan yang telah tersambung jaringan fiber optik (FO).

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul menilai, infrastruktur pendukung perlu disiapkan seiring dengan peningkatan sistem pemerintahan berbasis elektronik.

Sebab jika tidak, layanan masyarakat khususnya yang berkaitan dengan aplikasi akan sangat terganggu.

"Sementara yang langsung dirasakan oleh masyarakat kebanyakan ya belum tersambungnya fiber optik. Dan ini perlu kami dorong terus,” katanya.

Komisi A DPRD Bantul sendiri belum mendapati bahwa infrastruktur IT dijadikan sebagai prioritas. Lantaran setiap kali diajukan, infrastruktur IT selalu menjadi yang pertama disisihkan.

Sigit menilai, infrastruktur konvensional seperti jalan dan jembatan mungkin masih dianggap lebih penting.

Sementara, Pemkab Bantul sendiri baru meraih capaian nilai indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) kategori tertinggi di tingkat nasional pada Maret 2023 lalu.

"Infrastruktur konvensional memang penting. Tapi dengan perkembangan teknologi seperti sekarang, ya seharusnya kalau pemerintahan semakin dijalankan berbasis elektronik, infrastrukturnya pun juga harus semakin diperhatikan,” lontar Sigit.

Selain itu, Komisi A DPRD Bantul juga pernah menanyakan terkait total jumlah anggaran yang dibutuhkan untuk jaringan FO menjangkau seluruh kalurahan.

Pada tahun lalu, Sigit menyebut, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 16 miliar. Menurutnya, jumlah tersebut dirasa berat bagi anggaran reguler di Kabupaten Bantul.

Baca Juga: Coach Risto Beri Apresiasi, Hokky Adalah Bagian Penting Masa Depan Timnas Indonesia

Maka dari itu, pihaknya mencoba beberapa terobosan. Misalnya, dengan mengajukan melalui Dana Keistimewaan (Danais).

“Ada beberapa titik di Imogiri di mana jaringan FO berhasil disambung dengan menggunakan Danais,” ungkapnya.

Hal itu dicoba sebagai terobosan sumber pendapatan. Agar anggaran tidak menjadi alasan lagi.

“Angka Rp 16 miliar ini angka yang dinamis. Bisa jadi tahun lalu segitu, tapi sekarang lebih tinggi karena harga-harga naik. Atau lebih rendah karena beberapa titik sudah mulai tersambung,” tandas Sigit. (tyo)


Editor : Amin Surachmad
#Fiber Optik #sistem pemerintahan