Api Terlihat Padam tapi Tanah Menyala, Begini Alasan Kebakaran Gambut Sangat Sulit Diatasi

BANTUL - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut kerap menjadi tantangan luar biasa yang menguji stamina serta strategi para petugas pemadam kebakaran di lapangan.
Berbeda secara mendasar dari kebakaran di area tanah mineral, titik api pada ekosistem gambut tidak sekadar membakar vegetasi pepohonan maupun semak belukar di atas permukaan.
Bencana ekologis yang terus berulang ini menyita perhatian publik karena dampaknya yang memicu kabut asap pekat berkelanjutan serta merusak tatanan keanekaragaman hayati kawasan.
Pakar Ilmu Tanah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., memaparkan secara mendalam akar penyebab sulitnya pemadaman karhutla tersebut.
Menurut Gunawan, karakter mendasar tanah gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang terurai secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama kurun waktu yang amat panjang.
Lapisan bahan organik tebal ini pada dasarnya sanggup menyimpan cadangan air yang melimpah, namun tingkat kelembapannya sangat bergantung pada keberadaan sistem tata air kawasan.
Ketika muka air tanah anjlok akibat musim kemarau yang memanjang atau pengeringan melalui kanal drainase buatan, lapisan atas tanah gambut akan kehilangan kelembapannya secara drastis.
Kondisi ekstrem tersebut mengubah endapan serasah tumbuhan organik hingga kedalaman beberapa meter menjadi hamparan bahan bakar padat yang amat kering dan sangat mudah tersulut api.
Tantangan paling rumit dalam penanganan karhutla gambut terletak pada keberadaan bara api tersembunyi yang sanggup menjalar secara perlahan jauh di bawah permukaan tanah.
Walaupun kobaran api yang terlihat di atas permukaan tanah sudah berhasil dipadamkan, bara tersembunyi di dalam lapisan tanah masih tetap bertahan dan merambat ke area lain.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




