MUNGKID - Pemkab Magelang mendorong culinary challenge dan tabletop yang digelar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menjadi agenda rutin tahunan. Sebab gelaran tersebut berpeluang untuk memperkuat promosi destinasi sekaligus memperluas jejaring bisnis pariwisata.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengutarakan, kegiatan semacam ini tidak cukup dipandang sebagai perlombaan kuliner atau pertemuan pelaku usaha.
Jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kepentingan bisnis, promosi produk lokal, serta pengembangan paket wisata yang terhubung dengan kawasan Borobudur.
Baca Juga: Resmi Dimulai, Vaksinasi Rabies Gratis Sasar 2.800 Ekor Hewan Peliharaan di Kota Jogja
"Kalau event seperti ini mau dilakukan tahunan, kami atas nama pemerintah support 100 persen. Kalau dilakukan di wilayah Borobudur," kata Grengseng di Marga Utama Candi Borobudur, Senin (31/8) malam.
Menurutnya, keberadaan forum yang mempertemukan pelaku usaha hotel, restoran, biro perjalanan, pengelola destinasi, hingga calon mitra bisnis penting untuk memperkuat ekosistem pariwisata. Terlebih, Borobudur memiliki daya tarik yang tidak hanya menyangkut destinasi, tetapi juga budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Grengseng menilai, pengembangan pariwisata Borobudur tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Pelaku usaha, organisasi pariwisata, pengelola destinasi, hingga masyarakat perlu memiliki ruang kolaborasi yang lebih rutin.
Baca Juga: Full Pedestrian Malioboro, ASITA Ingatkan PR Pemprov, Akses Bus hingga Shuttle Harus Disiapkan
Dia menyebut PHRI, Asita, pengelola destinasi dan pelaku usaha lainnya memiliki peran masing-masing dalam membangun rantai ekonomi pariwisata. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi menghasilkan transaksi dan kerja sama yang berdampak langsung terhadap usaha masyarakat.
"Tidak ada yang paling menang, tidak ada yang dikalahkan. Mari duduk bersama-sama, berjalan bersama-sama," lontarnya.
Ketua PHRI Kabupaten Magelang Usep Syarifudin mengatakan, culinary challenge dan tabletop dirancang untuk mempertemukan dua kebutuhan dalam industri pariwisata. Yakni penguatan produk kuliner dan perluasan jaringan bisnis.
Baca Juga: Polresta Jogja Limpahkan 19 Tersangka Tahap Dua Daycare Little Aresha ke Kejaksaan
Culinary challenge menjadi ruang bagi pelaku industri untuk mengangkat makanan dan bahan pangan lokal. Sementara Tabletop diarahkan sebagai forum pertemuan bisnis antara pelaku usaha pariwisata dengan calon mitra dari berbagai daerah. "Mendorong penggunaan bahan pangan daerah, serta memberikan ruang promosi bagi pelaku industri kuliner," jelas Usep.
Menurut dia, kuliner merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata. Karena itu, penguatan produk kuliner lokal dapat menjadi salah satu cara memperpanjang rantai ekonomi dari kunjungan wisatawan di kawasan Borobudur.
Baca Juga: Tak Hanya Fokus Bisnis Konsultan, Lidana Erfiandri Ingin Kembangkan Laboratorium PT SMB
Tidak hanya menjual destinasi, pelaku pariwisata dapat menawarkan pengalaman yang lebih lengkap. Terutama melalui makanan lokal, akomodasi, perjalanan, hingga paket wisata yang menghubungkan Borobudur dengan berbagai destinasi lain di Kabupaten Magelang.
Konsep tersebut juga menjadi satu alasan PHRI menggabungkan Culinary Challenge dengan Tabletop. Forum bisnis diharapkan tidak hanya menghasilkan pertemuan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama antarpelaku usaha. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo