JOGJA - Destinasi Kano Maritim Baros di Padukuhan Baros, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek kini terus berkembang. Bahkan menjadi magnet wisata sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Ini karena berkat Dana Kesitimewaan (Danais) yang tak hanya dimanfaatkan untuk pembangunan fisik melainkan menjadi penggerak lahirnya ekosistem wisata ramah lingkungan di pesisir selatan Bantul.
Pengelola Kano Maritim Baros Ari Saputro mengatakan, sejak awal konsep yang dibangun adalah wisata yang tetap menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan habitat satwa di kawasan tersebut. Karena itu, penggunaan perahu bermesin tidak dipilih.
"Sempat mencoba memakai rakit bambu, tetapi kurang aman," ujarnya pada sesi diskusi Rembag Keistimewaan yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewan, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: INACRAFT Festival 2026 Digelar di Jogja, Jadi Panggung UMKM Kerajinan Tembus Pasar Global
Melalui bantuan tersebut, sebanyak 14 unit kano berhasil dibeli sebagai armada awal wisata. Meski pada bulan-bulan pertama jumlah pengunjung masih minim, promosi melalui media sosial perlahan membuahkan hasil.
Pada akhir 2022 salah seorang wisatawan mengunggah pengalaman berwisata menggunakan kano di Baros hingga videonya ditonton lebih dari dua juta kali. Sejak saat itu jumlah wisatawan melonjak drastis.
"Kami sampai kewalahan. Ada wisatawan yang menangis, bahkan ada yang kembali lagi tiga hari kemudian karena antreannya panjang," katanya.
Jumlah armada yang semula hanya 14 unit kini telah bertambah menjadi 27 kano. Untuk mengatur antrean sekaligus memberikan kepastian layanan kepada pengunjung, sistem pemesanan kini dilakukan secara daring melalui akun Instagram @kano.mangrove. Pengunjung juga dapat memilih rute pendek dengan tarif Rp 35 ribu per orang.
Sementara bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan lebih lama, tersedia rute panjang dengan tarif Rp 60 ribu. Jalur ini ditempuh sekitar satu jam dan membawa pengunjung menjelajahi kawasan hutan mangrove yang menjadi habitat berbagai satwa di pesisir Baros.
“Awalnya hanya mempekerjakan lima orang, kini pengelolaan Kano Maritim Baros mampu menyerap sekitar 30 tenaga kerja yang berasal dari karang taruna maupun warga sekitar,” jelasnya.
Lurah Tirtohargo Sugiyamto mengatakan, sebelum kawasan tersebut berkembang sebagai destinasi wisata, mayoritas warga hanya mengandalkan sektor pertanian, nelayan, dan peternakan.
Momentum perubahan dimulai ketika Kalurahan Tirtohargo ditetapkan sebagai Kalurahan Maritim pada 2021. Setahun berikutnya, kalurahan memperoleh Danais sebesar Rp 750 juta yang dimanfaatkan berdasarkan usulan masyarakat.
Baca Juga: Kapan Nyeri Punggung Harus Segera Diperiksakan? Kenali Tanda-Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan
Sugiyamto menjelaskan, selama tiga tahun berturut-turut Tirtohargo memperoleh Danais masing-masing sebesar Rp 750 juta. Anggaran tersebut tidak hanya digunakan membeli kano, tetapi juga membangun gazebo bagi pelaku UMKM, coffee maritim, fasilitas Bunhargo untuk aktivitas difabel dan PAUD.
Hingga mendirikan Gareng Sinau sebagai pusat edukasi mitigasi bencana dengan konsep inklusif. “Wisata kano Baros memiliki konsep ramah lingkungan dan inklusif,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan DIY Tri Agus Nugroho menegaskan, pengembangan kano Baros bukan sekadar membangun destinasi wisata, melainkan bagian dari upaya konservasi lingkungan yang menjadi fondasi pembangunan kawasan pesisir selatan.
"Kano bukan tujuan akhirnya, tetapi pintu masuk pelestarian mangrove, kura-kura, burung, hingga berbagai biota yang berkembang di kawasan ini,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita