JOGJA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mendorong Pemprov DIY memperkuat layanan transportasi penghubung menuju Malioboro dan kawasan Sumbu Filosofi. Langkah ini sebagai upaya untuk mempertahankan minat wisatawan menginap di DIY . Menyusul adanya pembatasan bus pariwisata masuk ke pusat kota.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, penataan kawasan wisata dan pembatasan akses bus pariwisata ke sejumlah titik di pusat kota perlu diimbangi dengan solusi transportasi yang memadai. Ini untuk memfasilitasi wisatawan yang ingin berkunjung ke Malioboro, namun tetap memberikan kemudahan akses.
"Kalau sudah dipindah, itu kan harus ada solusi. Parkir Ngabean ternyata transportasi Thole-nya masih kurang, ya shuttle harus ditambah," katanya, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Genjot Efektivitas, Guru Didorong Manfaatkan AI dalam Pembelajaran
Deddy menuturkan, persoalan akses menuju Malioboro mulai menjadi perhatian pelaku industri pariwisata. Saat mengikuti kegiatan promosi pariwisata di Bali belum lama ini, ia menerima sejumlah pertanyaan dari agen perjalanan terkait kemudahan mobilitas rombongan wisatawan menuju kawasan Malioboro. Terlebih setelah bus tidak lagi dapat menjangkau sejumlah titik di kawasan Sumbu Filosofi.
Menurutnya, agen perjalanan mempertanyakan kapasitas transportasi penghubung dari kantong-kantong parkir seperti Ngabean maupun Taman Parkir Abu Bakar Ali 2 di eks Menara Kopi, terutama untuk melayani rombongan dalam jumlah besar.
"Apakah shuttle wisata selalu tersedia dan cukup untuk mengangkut tamu dalam jumlah banyak, itu kan perlu jadi perhatian," pintanya.
Baca Juga: Musim Depan PSIM Jogja Tetap Berkandang di SSA Bantul, Janjikan Lampu Lebih Terang
Pun keterbatasan armada penghubung dinilai berpotensi mengganggu jadwal perjalanan wisata yang telah disusun agen perjalanan. Padahal, wisatawan rombongan menjadi salah satu segmen yang berkontribusi terhadap tingkat hunian hotel dan perputaran ekonomi sektor pariwisata.
"Travel agent itu sudah mengatur jam sekian, jam sekian, sudah ada schedule-nya. Nah, ini yang bisa mengganggu," jelasnya.
Kendati tidak mempermasalahkan kebijakan penataan kawasan wisata, namun wisatawan perlu dipastikan dapat kemudahan saat berpindah dari kantong parkir menuju destinasi utama. Bahkan, diusulkan agar pemprov menambah armada shuttle wisata dan memperkuat layanan transportasi penghubung di titik-titik parkir wisata.
Baca Juga: Akibat Membakar Sampah Kayu, Api Merembet dan Bakar Dapur Warga Sumur, Palbapang, Bantul
"Saya mohon pemerintah daerah dan pemerintah kota bisa antisipasi hal ini. Wisatawan disediakan shuttle yang nyaman dan gratis. Transportasi penghubung gitu lho," terangnya.
Menurutnya, kemudahan akses menuju Malioboro menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing pariwisata Jogja di tengah persaingan dengan daerah tujuan wisata lain.
Apalagi, wisatawan yang menginap umumnya tidak hanya berkunjung ke satu destinasi, tapi juga berbelanja, dengan transportasi lokal, hingga mengunjungi berbagai objek wisata lain yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
"Kalau tidak, ya semakin berkurang wisatawan untuk datang ke Jogja. Kita harus mengantisipasi itu," tuturnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita