MUNGKID - Penurunan kunjungan wisata saat libur Lebaran menjadi alarm bagi sektor pariwisata di Magelang. Minimnya promosi dan belum terintegrasinya informasi destinasi mendorong pelaku wisata beralih ke strategi kolaboratif untuk menarik kembali wisatawan.
Ketua Forum Daya Tarik Wisata Kabupaten Magelang Edwar Alfian menyebut, penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di satu atau dua lokasi. Tetapi merata di berbagai destinasi, baik di wilayah kota maupun kabupaten.
"Sebagian besar destinasi mengalami penurunan kunjungan. Dari evaluasi awal, salah satu penyebabnya adalah kurangnya promosi," ujarnya, Selasa (14/4).
Baca Juga: Raperda Daerah Istimewa Yogyakarta Tentang Perlindungan Konsumen
Menurut Edwar, selama ini wisatawan yang datang ke Magelang cenderung hanya mengunjungi destinasi yang sudah populer, tanpa melanjutkan perjalanan ke lokasi lain. Padahal, potensi wisata di wilayah ini tergolong beragam, mulai dari wisata alam, budaya, hingga desa wisata.
Kondisi tersebut, lanjut dia, menunjukkan adanya kesenjangan informasi. Banyak destinasi belum dikenal secara luas, sehingga tidak masuk dalam perencanaan perjalanan wisatawan. Akibatnya, lama tinggal wisatawan relatif singkat dan perputaran ekonomi tidak merata di seluruh destinasi.
Dia mengatakan, selama ini, promosi destinasi wisata di Magelang masih berjalan sendiri-sendiri. Setiap pengelola lebih fokus memasarkan objeknya masing-masing tanpa keterhubungan dengan destinasi lain.
Baca Juga: Kontes Layanan Honda Regional (KLHR) 2026, Astra Motor Yogyakarta Siapkan Kandidat Layanan Terbaik
Model promosi seperti ini dinilai kurang efektif dalam menarik wisatawan untuk menjelajahi lebih banyak tempat. Tanpa narasi yang terintegrasi, Magelang belum tampil sebagai satu kesatuan destinasi yang utuh.
"Kita punya banyak potensi, tapi belum saling terhubung dalam promosi," kata Edwar.
Sebagai respons, kata dia, pelaku wisata mulai menggeser pendekatan promosi menjadi lebih kolaboratif. Konsep yang diusung adalah saling merekomendasikan antardestinasi kepada wisatawan.
Dengan pendekatan ini, setiap destinasi tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga pintu masuk menuju destinasi lainnya.
Tagline 'Destinasiku Destinasimu, Destinasimu Destinasiku' menjadi simbol perubahan strategi tersebut.
Baca Juga: Savio Sheva Tegaskan Komitmen di PSIM Jogja, Masih Terikat Kontrak Tiga Tahun dan Ingin Terus Berkembang
"Melalui konsep tersebut, wisatawan yang datang ke satu lokasi akan mendapatkan informasi dan rekomendasi untuk mengunjungi tempat lain di Magelang," paparnya.
Edwar melanjutkan, strategi promosi bersama ini tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan. Semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar pula dampak ekonomi yang dihasilkan, mulai dari sektor kuliner, penginapan, hingga transportasi lokal.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, kolaborasi antardestinasi sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi. Menurutnya, promosi tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sistem yang mampu menghubungkan seluruh potensi wisata dalam satu platform.
Baca Juga: Total 117.000 Meter Persegi Lahan Terdampak Tol Purwomartani-Maguwoharjo, Pembebasan Sudah 95 Persen
Dia mengatakan, pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan platform digital yang akan menjadi pusat informasi destinasi wisata di Magelang. Melalui platform itu, wisatawan dapat mengakses berbagai informasi penting, seperti lokasi, harga tiket, hingga kontak pengelola.
"Selama ini banyak wisatawan yang belum tahu potensi wisata di Magelang, bahkan informasi dasar seperti harga tiket dan akses," terangnya.
Selain integrasi digital, katanya, pendekatan kolaboratif juga dinilai sejalan dengan karakter warga lokal yang mengedepankan gotong royong. Dengan saling mendukung antar destinasi, diharapkan terbentuk ekosistem pariwisata yang lebih kuat dan berkelanjutan. (aya)