Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Biasa, Candi Sari Kalasan Tawarkan Pesona Bangunan Bertingkat Dua dari Abad ke-8

Delima Purnamasari • Minggu, 1 Maret 2026 | 03:30 WIB

Mengenal Candi Sari: Bangunan Suci Bercorak Budha yang Bertahan di Tengah Modernitas Pemukiman Kalasan
Mengenal Candi Sari: Bangunan Suci Bercorak Budha yang Bertahan di Tengah Modernitas Pemukiman Kalasan

 

 

Wilayah Sleman timur dikenal sebagai surganya candi-candi. Sebut saja Candi Prambanan, Candi Sambisari, hingga Keraton Ratu Boko. Di luar nama-nama tersebut masih ada banyak candi lain. Salah satunya adalah Candi Sari yang berlokasi di Bendan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.

Lokasi Candi Sari tak jauh dari Jalan Raya Jogja-Solo. Hanya saja memang harus melalui gang karena lokasinya berada di wilayah permukiman. Untuk masuk ke candi ini biaya yang dikenakan cukup terjangkau. Bagi wisatawan nusantara Rp 10 ribu dan wisatawan mancanegara Rp 20 ribu.

Pamong Budaya Ahli Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Putu Dananjaya menjelaskan, keunikan utama dari Candi Sari adalah karena menampakkan bangunan bertingkat. Bangunan candi bertingkat yang lain adalah Candi Plaosan di Jawa Tengah.

"Candi berlantai dua di DIY dan Jawa Tengah itu sangat jarang ya. Ini jadi keunikan dan bisa dilihat dari jendela-jendelanya," katanya, Jumat (27/2).

Berdasarkan informasi yang terpasang, Candi bercorak Budha ini dibangun sekitar 8 masehi hampir bersamaan dengan Candi Kalasan. Saat pertama kali ditemukan Candi Sari dalam kondisi rusak.

Pada 1929 atau 1930 candi ini untuk pertama kalinya dipugar meski tidak sempurna. Selasar keliling bangunan, penampil pada pintu masuk, serta stupa atap tidak terpasang utuh karena sisa-sisanya telah hilang.

Candi Sari sendiri memiliki denah empat persegi panjang dengan ukuran 17,3 x 10 meter. Candi terbagi menjadi tiga bilik. Kemungkinan di dalamnya pernah diletakkan arca Budha yang diapit Bodhisatwa. Sementara di bagian dinding luar candi dipahatkan relief-relief Bodhisatwa sejumlah 38 buah.

Putu menjelaskan, candi ini memang sangat potensial untik dikembangkan ke depan. Hanya saja memang tantangannya karena lokasi candi yang berada di tengah permukiman. Untuk benar-benar bisa jadi destinasi utama, dia menilai perlu adanya pembebasan lahan sekitar.

"Cuma kalau sementara ini belum ada rencana seperti itu. Pengembangan saat ini kami masifkan dahulu soal informasi dan interpretasi soal candinya," tambahnya.

Dia juga menilai akan pentingnya menarik minat anak muda agar mau mengunjungi situs-situs sejarah semacam ini. Salah strateginya adalah dengan mengkorelasikan candi dengan minat terkini, seperti piknik atau destinasi petualangan.

Pemanfaatan digitalisasi seperti media sosial dan pembuatan film pendek juga jadi strategi utamanya. "Kami ajak melalui media sosial dengan cara kekinian untuk main ke candi. Tidak langsung cerita sejarahnya," tambahnya.

Saat ini Putu bercerita tengah fokus pada upaya perawatan candi. Apalagi di tengah musim hujan karena lumut tumbuh secara cepat. Pembersihan ini dilakukan secara manual maupun menggunakan bahan kimia.

"Kalau kunjungan paling ramai memang akhir pekan dan libur panjang. Terkadang ada juga yang melakukan sembahyang," tambahnya. (del/pra)

Editor : Heru Pratomo
#candi #Jogja-Solo #Sleman #kalasan #jalan raya #DIY #Candi Sari