Destinasi wisata Puncak Sosok yang berada di Jalan Samirono, Jambon, Bawuran, Kapanewon Pleret, terus menjadi magnet wisatawan. Berada di kawasan perbukitan, Puncak Sosok menyuguhkan panorama Kota Jogja dari ketinggian, terutama saat malam hari, lengkap dengan sajian live musik yang menjadi daya tarik utama.
Ketua Pengelola Puncak Sosok Rudi Haryanto, 39, menjelaskan, destinasi ini mulai dirintis pada 2017. Lokasinya dipilih karena berada di ketinggian sehingga menawarkan pemandangan dari pagi hingga malam hari, serta jauh dari permukiman warga.
“Dulu yang menginisiasi itu pemuda-pemuda kampung bersama masyarakat dengan memanfaatkan tanah kas desa," ujarnya Jumat (20/2).
Puncak Sosok dengan kapasitas mencapai 4 ribu orang ini, kini dikenal sebagai destinasi yang ramah untuk semua kalangan. Mulai dari anak muda hingga keluarga. Pengunjung dapat menikmati suasana santai sembari menyaksikan gemerlap lampu kota dari atas bukit.
Dari sisi fasilitas, pengelola menyediakan beragam sarana pendukung. Mulai dari area kuliner, spot foto, panggung live music, toilet, gazebo, warung, camping ground, hingga area pandang kota. Bahkan, pengunjung juga bisa menikmati kopi di dua titik kedai kopi yang tersedia di kawasan tersebut.
Untuk harga tiket masuk, pengelola mematok tarif Rp 5.000 per orang. Bagi pengunjung yang ingin berkemah, Puncak Sosok menyediakan area camping ground dengan kapasitas hingga 100 orang. Biaya camping dikenakan Rp 10.000 per orang, dengan ketentuan tenda dibawa sendiri. Sementara itu, penyewaan tikar tersedia dengan tarif Rp 5.000.
Dari sisi kuliner, harga makanan dan minuman tergolong terjangkau. Kopi dibanderol mulai Rp 15.000. Warung-warung di kawasan bawah menyediakan aneka menu, seperti nasi liwet, nasi sambal teri, sambal lombok ijo, nasi kebuli, bakso, mi ayam, pecel lele, aneka gorengan, hingga jajanan ringan. Harga makanan berkisar Rp 1.000 hingga Rp 10.000, dengan menu seperti bakso dan mi ayam berada di kisaran harga tertinggi.
Salah satu ciri khas Puncak Sosok adalah live music yang rutin digelar. Pertunjukan musik dihadirkan setiap hari, kecuali malam Jumat, mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Dalam satu hari, terdapat enam band yang tampil secara bergantian dengan genre lagu yang sedang viral.
Namun khusus Ramadan, live music diliburkan. Jam operasional pada hari biasa dimulai pukul 18.00 hingga 23.00, sedangkan saat Ramadan dibuka mulai sore hari karena pagi hingga siang relatif sepi pengunjung.
Baca Juga: Anggaran Terbatas, Target Perbaikan Jalan 378 Kilometer di Sleman Baru dengan Tambal Sulam
Sejak berdiri, pengembangan Puncak Sosok dilakukan secara bertahap. Rudi mengakui, pada awal perintisan terdapat banyak kendala, mulai dari keterbatasan SDM, akses jalan, air bersih, hingga listrik. Namun, semua diatasi dengan skala prioritas.
Ke depan, pengelola masih menyiapkan sejumlah rencana pengembangan. Di antaranya renovasi warung di bawah panggung, pengembangan area bawah panggung yang masih luas, serta pengembangan akses pintu masuk dengan jalur baru.
Pengelola juga berkomitmen melibatkan lebih banyak masyarakat agar dampak ekonomi semakin dirasakan.
“Keterlibatan masyarakat itu penting, karena bisa menambah penghasilan, mengurangi pengangguran, menambah kas kampung dan kas desa, serta meningkatkan aksesibilitas warga,” katanya.
Untuk menjaga eksistensi dan keramaian wisata, pengelola rutin melakukan evaluasi bulanan, menjaga koordinasi dengan pemerintah desa hingga provinsi, serta memperkuat soliditas organisasi yang melibatkan lebih dari 200 orang.
Selain itu, pengelola terus melakukan pembaruan fasilitas, peningkatan kualitas musik, penerangan, hingga penambahan titik pandang yang kini jumlahnya lebih dari 14 titik.
Rudi berharap, ke depan Puncak Sosok dapat terus berkembang, melibatkan lebih banyak masyarakat, meningkatkan perekonomian warga, serta memberikan kontribusi bagi pendapatan asli desa.
“Harapannya, Puncak Sosok bisa semakin maju dan membawa manfaat luas bagi masyarakat,” ungkapnya. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo