JOGJA – Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta terus bergerak aktif dalam mengembangkan sektor pariwisata yang adaptif dan berkelanjutan. Melalui Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Revitalisasi dan Pengembangan Daya Tarik Wisata Berbasis Inovasi dan Keberlanjutan, para pengelola destinasi diajak bersinergi membangun pariwisata yang tak hanya menarik, tetapi juga relevan dengan tren masa kini.
FGD yang digelar di Swiss-Bel Express Yogyakarta ini menghadirkan 58 pengelola destinasi wisata, terdiri dari 20 destinasi sejarah, budaya, dan religi, 14 destinasi pendidikan, enam destinasi belanja, serta 18 kampung wisata. Ini menjadi forum penting untuk menyatukan langkah dalam menjawab tantangan pariwisata ke depan, terutama di tengah perubahan besar seperti hadirnya infrastruktur jalan tol yang kini mempermudah akses menuju Kota Yogyakarta.
“Dengan hadirnya tol, Yogya semakin mudah dijangkau. Ini peluang besar, namun juga tantangan. Daya tarik kita harus selalu segar, menarik, dan siap bersaing,” ungkap Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, saat membuka kegiatan, Kamis (25/9).
Dalam forum ini, dua pembicara dihadirkan: Boby Ardianto Setyo Aji dan Hendi Setyo Yulianto, yang memberikan insight strategis mengenai pengelolaan destinasi berbasis pengalaman, serta pentingnya event sebagai penopang utama atraksi wisata. Kedua narasumber sepakat bahwa destinasi harus hidup, tidak monoton, dan memiliki narasi yang kuat untuk memikat wisatawan.
Wawan Harmawan juga mengajak seluruh pengelola destinasi untuk terus berinovasi, termasuk menggali kekayaan khasanah lokal. Salah satu contoh yang bisa dikembangkan adalah keunikan kuliner kampung, yang menjadi daya tarik otentik khas Kota Yogyakarta.
“Saya berharap forum ini menjadi awal dari banyak kolaborasi. Kita butuh gagasan segar, kerja sama antar destinasi, dan semangat saling dukung,” tandasnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendra Koko, menambahkan bahwa FGD ini bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga titik awal implementasi inovasi. “Apa yang diperoleh di forum ini harus bisa diterapkan langsung di destinasi. Kita ingin muncul magnet-magnet baru yang memperkuat positioning pariwisata Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Namun demikian, tantangan besar juga dihadapi: sampah. Wakil Wali Kota menyoroti kondisi ini sebagai ancaman serius bagi citra pariwisata.
“Beberapa titik sudah terlalu padat sampah, bahkan sampai ke badan jalan. Ini tidak bisa dibiarkan. Saya mengajak para pengelola destinasi untuk bersama-sama menjaga kebersihan. Pariwisata yang indah harus dimulai dari lingkungan yang bersih,” tegasnya.
Ajakan untuk mengurangi sampah tidak hanya menjadi himbauan, namun didorong sebagai bagian dari komitmen bersama demi menjaga wajah kota wisata yang nyaman, bersih, dan layak dikunjungi.
FGD ini diharapkan menjadi bagian dari langkah konsisten Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menjadikan kota budaya ini tidak hanya sebagai destinasi unggulan nasional, tetapi juga global—melalui pendekatan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. (Oliviera Nawang Prastiwi)
Editor : Heru Pratomo