Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ancamannya Bukan Kera tapi Manusia, Menjaga Hutan Karst Upaya Pemulihan Ekosistem Suaka Margasatwa Paliyan

Yusuf Bastiar • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 14:25 WIB
Gunawan sedang menunjukkan pohon resan atau beringin yang ditanam di kawasan konservasi margasatwa Paliyan Jumat (8/8).
Gunawan sedang menunjukkan pohon resan atau beringin yang ditanam di kawasan konservasi margasatwa Paliyan Jumat (8/8).

 

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Hutan karst Suaka Margasatwa (SM) Paliyan di Kabupaten Gunungkidul menjadi saksi bisu kegigihan manusia memulihkan alam yang pernah rusak.  Sejak 2005, perlahan-lahan kawasan ini mulai hijau kembali. Setelah sebelumnya mengalami degradasi akibat perubahan fungsi hutan dan tekanan dari aktivitas manusia.

Salah satu aktor penting di balik pemulihan kawasan ini adalah perusahaan asuransi Jepang yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) DIJ. Mereka memulai pekerjaan besar: menghidupkan kembali kawasan karst yang berbatu, kering, dan memiliki tanah dangkal yang nyaris tandus.

"Kami sudah menanam sekitar 300 ribu bibit, ada 30 jenis tanaman mulai dari kayu keras hingga buah-buahan. Tanaman buah untuk makanan kera, dan pohon-pohon besar untuk mendukung habitat mereka," ujar Gunawan Setiaji, perwakilan Mitsui Sumitomo Insurance, saat ditemui di Pusat Pembibitan Native Species Karst, SM Paliyan, Jumat, (8/8).

Menurut Gunawan, pemulihan ekosistem dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari pembangunan tempat persemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga penyuluhan kepada masyarakat desa sekitar kawasan hutan. Tujuannya bukan hanya menghijaukan kembali Paliyan, tetapi juga membangun kesadaran dan keterlibatan warga dalam menjaga kawasan konservasi.

SM Paliyan secara resmi ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.1870/Menhut VII/KUH/2014, dengan luas sekitar 434 hektare. Kawasan ini merupakan bagian dari bentang alam Karst Gunung Sewu yang dikenal unik dan rapuh, memiliki fitur geologis seperti lembah kering, telaga, goa bawah tanah, dan kubah karst.

Namun, selama bertahun-tahun, hutan ini sempat tergerus. Satwa liar kehilangan habitat, dan masyarakat sekitar terpaksa berbagi ruang hidup dengan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang jumlahnya mencapai sekitar 400 ekor. Ketika hutan menipis, konflik pun meningkat. "Awalnya karena hutannya hilang, kera jadi masuk ke permukiman, makan tanaman warga. Tapi sekarang, setelah hutan berhasil dipulihkan sekitar 60 persen, konflik itu mulai mereda," tambah Gunawan.

Upaya menghijaukan Paliyan bukan perkara mudah. Tanah karst yang kering dan tipis menjadi tantangan tersendiri. Menurut Agus Sunarto, Polisi Hutan SM Paliyan, musim kemarau bisa membunuh banyak bibit muda jika tidak disiram secara rutin. Selain itu, tunas muda juga rentan dimakan oleh kera yang mencari makanan. "Tantangan terberat bukan cuma cuaca, tapi juga ulah manusia,” tegasnya. “Kalau tanaman masih muda, biasanya aman. Tapi setelah lima tahun, saat batang sudah keras, ada saja warga yang nebang buat kebutuhan pribadi.”

Untuk itu, patroli dan pemeliharaan tanaman dilakukan secara berkelanjutan. Selain menjaga hutan dari eksploitasi liar, tim pengelola juga aktif menyiram pohon selama musim kering, demi memastikan kelangsungan hidup bibit yang ditanam. "SM Paliyan bukan cuma untuk satwa dan pohon, tapi juga jadi tempat hidup masyarakat. Harus saling jaga," ujar Gunawan.

Sebagian besar vegetasi di SM Paliyan saat ini merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan sejak 2005. Jenis tanaman yang ditanam beragam, mulai dari asam jawa, duwet, jambu, mahoni, hingga pohon khas karst seperti bulu, preh, dan kepuh. Tanaman-tanaman ini bukan hanya menyuburkan tanah, tapi juga memulihkan ekosistem secara perlahan. Setelah hampir dua dekade, hasilnya mulai terlihat. Gunawan menyebut burung kembali bernyanyi di pagi hari. Koloni kera tidak lagi masuk ladang warga. Tanah yang dulu keras mulai ditumbuhi akar yang meresapkan air dan harapan. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#suaka margasatwa #manusia #kera #gunawan #karst #hutan #Paliyan #Gunungkidul #Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK)