JOGJA - Data nasional, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah dengan pergerakan wisatawan nusantara terbesar pada 2024. Mencapai 180,59 juta perjalanan. Jika mengacu survei terbaru Desa Wisata Institute dan ATOURIN (2025), wisatawan dari Jawa Barat tercatat menyumbang 17,6 persen dari total kunjungan ke desa/kampung wisata.
"Dampaknya terasa di berbagai sektor, mulai dari transportasi, penginapan, kuliner, hingga penjualan souvenir. Bahkan okupansi hotel pun menurun drastis," jelas Peneliti Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (Puspar UGM) Dr. Destha Titi Raharjana, Minggu (1/6).
Dia , menyebut keberadaan rombongan study tour pelajar berperan signifikan dalam mendukung ekonomi pariwisata DIJ. Destha menyoroti, bahwa antusiasme kelompok usia pelajar sangat tinggi. Selain itu, DIJ juga menawarkan kombinasi wisata budaya, alam, dan edukasi.
Lebih lanjut, Destha menekankan bahwa wisata pelajar juga berdampak langsung terhadap pelaku UMKM, khususnya pedagang makanan, minuman, serta oleh-oleh. "Produk kreatif lokal yang terjangkau menjadi daya tarik bagi para pelajar yang berkunjung," paparnya.
Kondisi ini diperburuk dengan terbitnya Instruksi Presiden No 1 Tahun 2025 yang mengatur efisiensi anggaran, termasuk pembatasan kegiatan study tour atau karya wisata dari instansi pemerintah dan sekolah. Kebijakan itu dinilai kontraproduktif dengan semangat pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.
Meski demikian, Destha menilai sektor pariwisata DIJ harus tetap optimistis dan adaptif. Ia menyarankan pelaku wisata untuk membuka pasar baru di luar Jawa Barat, serta menyasar kelompok wisatawan minat khusus yang masih potensial digarap.
"Kita perlu rebranding DIJ ke daerah lain lewat promosi tematik, travel dialog, hingga famtrip. Perlu juga ada event dan atraksi saat weekdays, bukan hanya saat akhir pekan," ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pelibatan seniman lokal dalam menyusun event-event berkualitas yang bisa menjadi bagian dari paket wisata, terutama saat low season.
Pemerintah daerah, menurutnya juga perlu sigap membaca dampak kebijakan pusat ini dan bersama pelaku industri melakukan langkah mitigasi strategis.
"Harus kreatif. Jogja tetap punya peluang besar di sektor wisata edukatif, tinggal bagaimana menyikapinya secara cerdas," tandasnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo