Kegiatan yang sudah memasuki sesi keenam ini berlangsung selama tiga hari dan kali ini berfokus pada Kelurahan Wirokerten, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengangkat potensi rintisan kalurahan budaya.
Endri Astuti Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Bantul, menyampaikan bahwa acara ini didanai dengan Dana Keistimewaan DIY dan menjadi agenda tahunan yang bertujuan mendorong promosi potensi budaya desa.
“Hari ini di Kalurahan Wirokerten, jadi tujuan kita ini juga merupakan ajang dalam mempromosikan potensi dari rintisan kalurahan budaya di desa Wirokerten. Seperti yang kita ketahui, sebenarnya di desa rintisan Kalurahan Wirokerten sendiri sudah ada paket wisata,” ujarnya pada Jumat, (16/05).
Endri juga menyebutkan bahwa dalam kegiatan ini, pihaknya menghadirkan tujuh Asosiasi Pariwisata Indonesia yang diharapkan dapat membantu mempromosikan wilayah tersebut lebih luas lagi.
“Diharapkan dari asosiasi yang kita adakan ini bisa mempromosikan atau membawa wisatawan ke rintisan kelurahan di wilayah Wirokerten, yang artinya nanti bisa meningkatkan juga kunjungan wisata, itu berdampak juga di peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.”
Peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah, termasuk dari Semarang, Jawa Tengah. “Peminat dari asosiasi itu juga banyak, tapi slot sudah terpenuhi,” imbuhnya.
Salah satu potensi wisata yang diangkat adalah paket wisata dengan andong.
“Andong merupakan potensi yang bisa menarik juga nanti untuk menjadi paket wisata unik di wilayah rintisan kebudayaan ini,” tambahnya.
Paket wisata Andong ini berjuan untuk menjelajadi potensi wisata yang ada di Kalurahan Wirokerten.
Tempat yang dikunjungi yakni homestay Grojogan, setelah itu mengunjungi sentra industri emping, lalu kembali lagi ke Pasar Blumbang.
Sebelumnya Pasar Blumbang juga mendapat bantuan dari Dinas Perikanan untuk budidaya ikan di beberapa kolam yang ada di dalam pasar.
“Mayoritas blumbang (kolam) ada ikannya, peruntukan budidaya untuk dikembangkan. Kalau mancing, ada satu blumbang yang ukurannya paling besar yang difokuskan untuk mancing,” tutur Vian Fandi Kusuma panitia pengelola Pasar Blumbang.
UMKM di Wirokerten juga tak hanya kuliner. “Ada industri tas, ada industri kerajinan perak. Selain itu, ada Handicarft. Terus kalau kuliner ada emping, ada soto yang piringnya terbuat dari batok kelapa, ada dawet, ada olahan kue namanya curobikang khas di sini, terus masih banyak yang lain juga,” lanjut Vian.
Menariknya, kawasan ini juga mulai menyediakan kopi yang dibuat secara manual.
"Jadi besok itu orang kalau mancing ngopinya ngga kopi saset, tapi kopinya dibuat secara manual. Jadi bener-bener dari biji kopi, biji kopi itu nanti diolah terus nanti diproses dengan cara khusus," ujarnya.
Harga kopi dibandrol Rp 15.000 sampai Rp 30.000 tergantung biji kopi dan olahannya.
Jenis kopi yang digunakan antara lain kopi lokal robusta, robika, dan beberapa didatangkan dari luar seperti Merapi dan Temanggung.
Saat ini pihak pengelola tengah mempersiapkan pelatihan barista. Rencananya pada tanggal 24 Mei mendatang sudah tersedia kopi yang dibuat manual oleh barista profesional.
“Sebelumnya sudah ada, cuma kurang kompeten. Jadi nanti ada workshop untuk meningkatkan keahlian barista di sini," tambahnya.
Sri Widodo, 55, seorang tenaga relawan, juga turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan selama Pasar Blumbang buka. “Setiap ada pasar ini buka kami membersihkan lingkungan di sini," ungkapnya.
Ia juga memaparkan mengenai Pasar Blumbang, yang berdiri sejak 2021. Pasar ini merupakan cerminan tradisi lama dari wilayah Mataram dan diadakan secara berkala.
“Di dalam Pasar Blumbang itu ada total 12 kolam, kalau orang Jawa bilang blumbang Mataram," jelasnya.
Pasar ini buka setiap minggu wage. Pada malam di hari sabtu dan minggu biasanya terdapat orkestra dengan lagu-lagu jadul.
Menurutnya Pasar Blumbang, belum banyak wisatasan mengetahuinya.
Dengan adanya kunjungan dari dinas pariwisata Bantul Sri Widodo berharap agar Pasar Blumbang semakin dikenal luas.
“kunjungan dinas pariwisata memberikan motivasi untuk kita agar Pasar Blumbang selalu maju dan harapannya bisa go international juga," tuturnya.
Untuk kegiatan mancing di kolam besar, panitia menyediakan beberapa ton ikan, dengan harga tiket masuk antara Rp 50.000 sampai Rp 100.000 tergantung hasil tangkapan.
Sementara, masuk ke area Pasar Blumbang tidak dipungut biaya alias gratis.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku pariwisata, harapannya Wirokerten dapat berkembang sebagai destinasi wisata budaya baru yang mampu mengangkat perekonomian lokal secara berkelanjutan. (Cr2)
Editor : Bahana.