Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berkunjung ke Masjid Gedhe Keraton Kauman: Wisata Religi Bersejarah di Yogyakarta

Meitika Candra Lantiva • Senin, 31 Maret 2025 | 20:15 WIB
Ilustrasi Masjid Gedhe Kauman.
Ilustrasi Masjid Gedhe Kauman.

RADAR JOGJA - Berlibur ke Yogyakarta dan ingin mengenal bangunan-bangunan bersejarah, terutama setelah berkunjung ke Alun-Alun Utara Yogyakarta?

Kunjungi saja Masjid Gedhe Keraton Kauman.

Terutama bagi umat Muslim yang ingin mengetahui lebih dalam tentang masjid yang dibangun pada 29 Mei 1773 ini.

Masjid ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan menjadi simbol harmonisasi antara kebudayaan khas Kerajaan Yogyakarta.

Pada masanya, masjid ini digunakan sebagai sarana beribadah bagi raja dan rakyatnya.

Karakteristik Masjid Gedhe Kauman sangat mencerminkan budaya Islam Jawa.

Terlebih lagi, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang dibangun oleh Kesultanan Yogyakarta.

Berdasarkan prasasti, 29 Mei 1773 bertepatan dengan hari Ahad Wage, 6 Rabiul Akhir tahun Alip.

Karena jumlah jemaah yang semakin melimpah pada tahun 1775, dibangunlah serambi Masjid Gedhe yang didirikan pada Kamis Kliwon, 20 Syawal tahun Jimawal.

Serambi masjid ini tidak hanya diperuntukkan untuk salat, tetapi juga digunakan sebagai "Al Mahkamah Al Kabirah", yang berfungsi sebagai tempat pertemuan alim ulama, pengajian dakwah Islamiyah, mahkamah pengadilan masalah keagamaan, pernikahan, perceraian, dan pembagian warisan.

Hari-hari besar agama Islam pun sering dilaksanakan di serambi Masjid Gedhe.

Di halaman masjid, terdapat pagongan, yaitu tempat penyimpanan instrumen musik gamelan Jawa yang terletak di sudut kiri dan kanan halaman.

Pada masa itu, gamelan digunakan sebagai alat dakwah dengan pendekatan budaya, seperti Gamelan Sekaten, yang dimainkan setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Instrumen musik gamelan Sekaten sangat terkenal di kalangan masyarakat dan menjadi daya tarik dalam mengenal serta memeluk agama Islam secara sukarela.

Kata sekaten sendiri berasal dari syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat.


Beberapa detail desain Masjid Gedhe Kauman juga memiliki makna filosofis, seperti atap masjid yang menggunakan pola susun tiga dalam gaya tradisional Jawa bernama Tajug Lambing Teplok.

Pola ini melambangkan tahapan pencapaian kesempurnaan hidup manusia, yaitu syariat, hakikat, dan makrifat.

Pada bagian puncak atap terdapat mustaka berbentuk daun kluwih, yang merupakan bagian dari buah sukun dan melambangkan keistimewaan bagi individu yang telah mencapai kesempurnaan hidup.

Simbolisasi ini bermakna bahwa seseorang yang telah menjalani syariat, hakikat, dan makrifat akan selalu dekat dengan Allah Yang Maha Esa.


Masjid Gedhe Kauman merupakan bagian dari kompleks Keraton Yogyakarta yang digunakan untuk berbagai upacara keagamaan.

Selain itu, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial dan tempat berkumpulnya masyarakat Yogyakarta.

Salah satu upacara keagamaan yang masih berlangsung hingga kini adalah Grebeg Besar.


Aktivitas Masjid Gedhe Kauman yang Masih Berjalan Hingga Sekarang:

1. Salat Jumat dengan kapasitas jemaah yang selalu penuh hingga di luar serambi.
2. Pengajian berbahasa Jawa yang diadakan setiap subuh pada hari Sabtu.
3. Tafsir Al-Qur'an setiap malam Ahad.
4. Tafsir kitab kuning setiap malam Sabtu.
5. Perayaan hari-hari besar Islam.


6. Salat Tarawih dua kali setiap malam selama Ramadan, setelah Isya dan menjelang sahur.

7. Tadarus Al-Qur'an beserta kajiannya.
8. Takjil bersama untuk 600 orang setiap hari selama Ramadan.
9. Kegiatan iktikaf.

Bagaimana? Tertarik untuk berkunjung dan mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh pengurus Masjid Gedhe Keraton Kauman?

Atau ingin merasakan euforia saat Grebeg Besar?

Bagi kalian yang Muslim dan menyukai sejarah, mengunjungi Masjid Gedhe Kauman adalah sebuah pengalaman yang tak boleh dilewatkan. (Faiq Rivaldy)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Masjid Gedhe #Keraton #Kerajaan Yogyakarta #Yogyakarta #bersejarah #Masjid Gedhe Keraton Kauman #Wisata #wisata religi #Keraton Kauman #kebudayaan #simbol harmonisasi #Sri Sultan Hamengku Buwono I