Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PBTY 2025 Dikunjungi Wisatawan Singapura dan Hongkong, Belasan Pertunjukan hingga 138 Stan Makanan Jadi Daya Tarik

Agung Dwi Prakoso • Rabu, 12 Februari 2025 | 03:14 WIB
Penampilan atraksi barongsai memeriahkan gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XX, di Ketandan, Kota Jogja, kemarin (11/2).
Penampilan atraksi barongsai memeriahkan gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XX, di Ketandan, Kota Jogja, kemarin (11/2).

 

JOGJA - Perhelatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2025 memasuki hari keenam. Belasan pertunjukan dan ratusan stan makanan khas chinesse memeriahkan acara tahunan tersebut.

Acara tersebut diselenggarakan di Kampung Ketandan di Jl. Ketandan Kulon, Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja. Ratusan pengunjung terlihat mendatangi setiap stan kuliner di acara yang didukung oleh Dinas Pariwisata (Dinpar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.

"PBTY ini termasuk perayaan Imlek sekaligus Cap Go Meh, kebetulan penutupan PBTY memang bertepatan dengan Cap Go Meh," ujar salah seorang panitia Pelaksana PBTY 2025, Subekti Saputro Wijaya, Selasa (11/2).

Acara dimulai sekitar pukul 17.00 dengan diawali pertunjukan Wayang Potehi. Mulai dari fashion show, tari-tarian hingga barongsai hari ini dipertontonkan untuk menyuguhi para pengunjung yang hadir. "Saat penutupan besok tidak ada pawai lagi seperti saat pembukaan kemarin," tuturnya.

Uniknya sekitar 138 stan kuliner tersebut menyediakan dua macam jenis makanan yakni halal dan nonhalal. Lokasi dua jenis makanan tersebut sengaja dipisahkan untuk memudahkan pengunjung dalam memilih makanan. "Keterangan sudah diinformasikan dalam denah lokasi stan, blok F khusus untuk makanan nonhalal," bebernya.

Menurutnya banyak masyarakat yang mendaftarkan usahanya agar bisa berjualan di acara PBTY 2025. Ada sekitar 500 yang telah mendaftar. Namun mengingat lokasi yang terbatas, pihaknya harus lebih selektif dalam menerima pendaftar.

“Kendala kita ada di tempat yang terbatas. Inginnya mengakomodasi semua yang daftar, tapi kami juga memiliki keterbatasan. Tapi tetap kami upayakan yang terbaik,” jelasnya.

Ketua Panitias PBTY 2025 Antonius Simon mengatakan perhelatan PBTY juga bertujuan untuk meningkatkan perputaran ekonomi. Terkebih melihat Yogyakarta menyandang gelar kota pendidikan, kebudayaan dan pariwisata. Artinya masyarakat dari berbagai daerah hingga luar negeri banyak yang berada di Yogyakarta. Mulai dari mahasiswa hingga wisatawan.

“Dari Singapura, dari Hongkong, juga ada yang datang kesini, dan mereka tertarik. Bisa dikatakan ini adalah event nasional," tuturnya.

Sejalan dengan amanat Gubernur DIY Hamengku Buwono X (HB X), yang disampaikan saat pembukaan acara beberapa hari yang lalu. PBTY 2025 mengusung tema ‘Seni dan Budaya Membentuk Karakter Bangsa’. Makna tema tersebut bertujuan agar masyarakat untuk merenungi hakikat budaya sebagai roh yang menghidupi peradaban.

"Bung Karno pernah berujar, bahwa kreasi kultural bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga menjadi upaya pengayaan wawasan sebagai bagian dari perjuangan," ujar HB X dalam sambutannya.

PBTY merupakan acara sekaligus memperingati Tahun Baru Imlek 2570 yang jatuh pada 29 Januari, lalu. Tahun ini merupakan tahun ular kayu dalam kalender Tionghoa. Tahun Ular Kayu merupakan tanda periode yang diyakni membawa energi transformasi, pertumbuhan, dan kreativitas.

Energi tersebut diharapkan menjadi modal sosial, dalam upaya pembangunan dan kebangsaan. "Pekan Budaya ini dapat menjadi momentum, untuk merenung kembali, bagaimana membangun semangat keIndonesiaan," bebernya.

Komunitas Tionghoa yang ada di DIY diharapkan terus bersinergi dan berkolaborasj untuk menguatkan Jogja yang istimewa. Pekan Budaya ini merupakan wujud integrasi sosial, ekonomi, dan budaya, menuju Indonesia Baru yang lebih menyatu. (*/oso/pra)

 

 

 
Editor : Heru Pratomo
#wayang potehi #Tionghoa #PBTY #Kuliner #Pariwisata #chinesse food #Imlek #ketandan #fashion show #Cap Go Meh #Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta