MAGELANG- Selain terkenal dengan wisata Nepal Van Java, Dusun Butuh, Temanggung, Kaliangkrik menawarkan potensi lain yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari potensi wisata, ekonomi, sosial budaya, sumber daya alam, hingga jalur pendakian. Terlebih, dusun tersebut terletak di lereng Gunung Merbabu dan menjadi dusun tertinggi di Kabupaten Magelang.
Pemerintah dusun bersama warga setempat pun terus berupaya agar Dusun Butuh semakin dikenal oleh pelancong. Dengan banyaknya wisatawan yang datang, praktis dapat meningkatkan taraf hidup dan perekonomian warga. Tanpa meninggalkan sosial budaya yang sudah mengakar di Dusun Butuh.
Kepala Dusun Butuh Lilik Setiyawan mengatakan, dusunnya memiliki potensi yang melimpah. Pertama, potensi wisata. Dusun Butuh memiliki potensi wisata yang luar biasa, seperti pemandangan alam yang inah, panorama nan epik, hingga susunan rumah yang unik.
Susunan rumah itu memunculkan itilah Nepal Van Java yang lantas bergaung di ranah industri pariwisata. Karena keindahannya yang identik dengan pedesaan di Pegunungan Himalaya, Nepal, Dusun Butuh praktis menjadi sorotan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Wisatawan pun berbondong-bondong mengunjunginya.
Saat cuaca cerah, wisatawan akan melihat gagahnya Gunung Sumbing yang menjadi latar belakang Dusun Butuh. Wisatawan dapat berkeliling dusun untuk merasakan suasana yang asri dan ramah. "Dusun Butuh juga merupakan jalur pendakian Gunung Sumbing, sehingga sering dilewati pendaki dari berbagai daerah," katanya, Jumat (31/1).
Selain wisata, Dusun Butuh juga menyimpan potensi sumber daya alam yang melimpah. Warga setempat memanfaatkan lahan pertanian untuk bercocok tanam. Seperti kubis, loncang, wortel, seledri, hingga brokoli. Biasanya, warga akan menjual sayur-mayur itu ke pasar terdekat, bahkan hingga ke daerah Jogja.
Lilik menambahkan, Dusun Butuh juga masih melestarikan tradisi dan budaya Jawa. Setiap tahun, warga akan menggelar tradisi tahunan, yakni merti dusun di bulan Safar dan nyadran sebelum Ramadan. Tidak hanya itu, ada lima kelompok kesenian yang hingga kini masih eksis di tengah modernisasi zaman. Antara lain kuda lumping, jathilan, dayakan, topeng ireng, dan kubro siswo.
Meski terkenal dengan wisatanya, warga Dusun Butuh tetap melestarikan tradisi dan kesenian daerah. Bahkan, saat melangsungkan merti dusun maupun nyadran, wisata Nepal Van Java akan diliburkan sementara demi kelancaran kegiatan itu. "Kami tetap mempertahankan, jangan sampai tergeser dengan kegiatan wisata, termasuk keramahtamahan warga," kata dia.
Kendati demikian, Lilik mengaku, masih ada banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Terutama dari sisi sumber daya manusia (SDM). "Kalau bicara tantangan, kita harus ada penyesuaian, pola pikir, dan kualitas SDM karena mau tidak mau, kita menerima banyak tamu dari berbagai macam latar belakang," imbuhnya. (aya/pra)