SLEMAN - Peran perempuan dalam pariwisata makin banyak. Tak hanya sebagai wisatawan tapi juga penyelenggara wisata. Hal itu diperkuat dengan peluncuran Pedoman Peran Perempuan di Desa Wisata dan Surat Keputusan Bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 82 Tahun 2024.
Hal itu diungkapkan Dosen Poltekpar Bali sekaligus Sekretaris Menteri Pariwisata 2020–2024, Ni Wayan Giri Adnyani dalam Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Kapasitas Perempuan di Desa Wisata, yang digelar Kementerian Pariwisata melalui Badan Otorita Borobudur (BOB) di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, DIY, Rabu (13/11).
"Solo travel perempuan atau berwisata dengan grup khusus perempuan jadi tren masa kini. Bagi perempuan yang berwisata keamanan dan kenyamanan itu paling penting," katanya.
Giri mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir tren perempuan yang berwisata sendiri maupun dengan grup menjadi tren wisata. Bahkan ada grup yang memiliki member hingga 500 perempuan. Hal itu disebutnya perlu kesiapan desa wisata untuk menyambutnya.
Dia pun mengingatkan tujuh aspek dalam pedoman peran perempuan di Desa Wisata dan Surat Keputusan Bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 82 Tahun 2024. Di antaranya terkait kelembagaan, sarana prasarana seperti toilet hingga isu kekerasan pada perempuan. "Yang utama, saat perempuan melakukan perjalanan yang ditanyakan keamanan dan kenyamanan," jelasnya.
Hal lain yang disorotinya adalah peran perempuan dalam pengelolaan desa wisata. Mengutip data jaringan desa wisata, di Indonesia baru 23 persen pengelola desa wisata merupakan perempuan. Dia pun mendorong memformalkan kontribusi perempuan. "Budaya patriarki di Indonesia masih jadi salah satu penghalang," ungkapnya.
Desa Sumberbulu menjadi salah satu contoh desa wisata yang berhasil memberdayakan perempuan dalam pengelolaan dan kelembagaan. Titin Riyadiningsih, Manajer Operasional Desa Sumberbulu, mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen penggerak Desa Wisata Sumberbulu adalah perempuan.
Program desa wisata ini berhasil mengubah kebiasaan ibu-ibu yang semula hanya berkumpul, menjadi lebih produktif dengan aktivitas seperti pengembangan UMKM dan paket wisata.
Namun demikian, masih ada berbagai kendala yang menghambat pemberdayaan perempuan di sektor pariwisata. Co-founder Women in Tourism Indonesia, Anindwitya Rizki Monica, menyampaikan bahwa hambatan yang sering dihadapi perempuan antara lain terkait kapasitas dan akses pelatihan, relasi gender dan kekuasaan, serta keterbatasan akses pembiayaan. Ia pun menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektoral untuk mewujudkan pengarusutamaan gender di sektor pariwisata.
Editor : Heru Pratomo