GUNUNGKIDUL - Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul terkenal dengan kampung perak. Dulunya, warga setempat mayoritas berprofesi sebagai pengrajin perak.
Keahlian dalam menyulap perak menjadi aksesoris hingga perhiasan merupakan warisan nenek moyang warga setempat. Hal itu tetap dilestarikan hingga kini. Tentunya, sebagai penunjang ekonomi warga setempat.
Pengrajin Perak Kalurahan Pampang Mardiyono mengatakan, hampir setiap rumah di Gunungkidul memiliki mini workshop kerajinan perak. Dirinya telah menggeluti keahlian kerajinan perak sejak 1996 silam.
"Karena orang tua kami maupun nenek moyang kami adalah pengrajin perak, sehingga keahlian itu diteruskan ke anak cucu," ujar Mardiyono kepada Radar Jogja, Jumat (10/9).
Beragam hasil olahan perak yang memiliki nilai jual seperti cincin, kalun, gelang, aksesoris batik dan lain-lain. Bahkan, dari perak mereka dapat membuat miniatur candi, buku, dan pesawat.
Selain dari warisan nenek moyak, keahlian kerajinan perak turut diperdalam dengan pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh warga setempat. Di Kalurahan Pampang, para pengrajin perak memiliki kelompok-kelompok usaha.
"Dulunya, jumlah pengrajin ratusan, tapi sekarang kurang lebih sisa 30 orang," tuturnya.
Mardiyono menuturkan, jumlah permintaan setiap harinya tidak menentu. Namun begitu, minat terhadap karya-karya kerajinan masih disukai banyak orang. Terutama bagi wisatawan di Kota Yogyakarta.
"Hasil kerajinan kami di jual ke Kota Yogyakarta sebagai ole-ole, tapi kadang juga kami menerima pesanan custom dari konsumen," tuturnya.
Baca Juga: Camat Magelang Selatan Diduga Langgar Netralitas ASN, Pjs Wali Kota Magelang: Sudah Kami Tegur
Harga yang dipatok untuk custom perak juga bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Hal itu ditentukan dengan jumlah atau kualitas dari karya kerajinan perak.
"Biasanya untuk cincin tunangan atau pernikahan," jelasnya.
Meskipun jumlah pengrajin perak di Kalurahan Pampang mulai berkurang, dirinya masih optimistis bahwa kampung perak di Gunungkidul akan tetap bertahan. (ndi)
Editor : Heru Pratomo