RADAR JOGJA - Menghabiskan hari, terutama saat akhir pekan, tidak melulu harus dilakukan dengan bersenang-senang di pantai, pusat perbelanjaan, maupun kafe. Karena bisa juga bersenang-senang sembari belajar tentang dunia kemiliteran. Satu di antaranya bisa mengunjungi Museum Taruna Abdul Djalil atau yang dikenal sebagai Museum Akmil Magelang.
Museum ini berada di kompleks Akademi Militer (Akmil) Magelang. Tepatnya di Jalan Jendral Gatot Soebroto, Jurangombo Selatan, Magelang Selatan. Museum ini menyediakan beragam koleksi yang mempunyai peran penting dalam proses pendidikan perwira dan taruna.
Museum ini didirikan pada 1964 dengan nama Museum Dharma Bhakti Taruna. Kemudian pada 1975 diubah menjadi Museum Taruna Abdul Djalil. Nama tersebut diambil dari seorang alumni Akmil Yogyakarta yang telah gugur di medan perang saat berlangsungnya agresi militer kedua.
Baca Juga: Sebagian Wilayah Gunungkidul Sudah Hujan, BPBD Salurkan Air 20 Tangki Per Hari
Saat memasuki museum, pengunjung akan disuguhkan dengan relief di lobi yang menggambarkan tentang sejarah dibukanya kembali Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1957. Lalu, pengunjung akan diarahkan masuk ke sisi kanan menuju ruang Pra AMN.
Anggota Urusan Museum Akmil Magelang Sertu Budiman menjelaskan, museum itu sebetulnya memiliki total 11 ruangan. Empat di antaranya merupakan ruang utama, yakni ruang Pra AMN, AMN, AKABRI, dan Akmil. "Kalau lainnya adalah ruang tambahan. Kisah perjalanan taruna, diceritakan di empat ruang itu," sebutnya, Jumat (27/9).
Dia menyebut, ruang Pra AMN mengisahkan cikal bakal berdirinya Akmil pada zaman kemerdekaan 1945. Di ruang itu terdapat virtual book untuk membaca sejarah masing-masing daerah. Selain itu, terdapat tanda tangan penghargaan Jenderal Urip Sumoharjo, teks hymne taruna dan lagunya, hingga peran atau keterlibatan taruna di medan pertempuran.
Setelah menyusuri ruang Pra AMN, pengunjung akan disuguhi lorong yang tidak terlalu panjang. Ketika pengunjung menginjakkan kaki di lorong tersebut, mereka seolah tengah menginjjak ranjau. Barulah kemudian memasuki ruang AMN. Di ruang tersebut, juga terdapat cerita sejarah mulai 1957 hingga 1966.
Selanjutnya, ada ruang AKABRI yang mengisahkan sejarah kemiliteran pada 1966 hingga 1984. Lalu, pengunjung bisa memasuki ruang Akmil. Di sana, pengunjung disuguhkan potret gubernur Akmil dari masa ke masa. Juga da sejumlah wajah sersan mayor satu taruna (sermatutar) dari tahun 1988 yang memperoleh penghargaan.
Keempat ruang utama itu memiliki cerita sejarah masing-masing. Bahkan, dilengkapi dengan koleksi para taruna, seperti baju dan perlengkapan lainnya. Bahkan, ada juga tempat tidur taruna. "Ada juga potret ibu Upakarini Wirra Tarun Akmil sebagai ibu asuh para taruna. Termasuk juga ada barang-barang antik, seperti piring," terangnya.
Selain empat ruang utama itu, ada ruang lain, yakni ruang lokananta. Ruang itu menampilkan penata rama dan pemegang bas drum dengan atraksinya. Menariknya, bas tersebut bisa ditabuh oleh pengunjung, asalkan mengikuti petunjuk yang disediakan.
Selanjutnya, ada lorong yang berisi tiga ekor macan yang berada di dalam sebuah kotak kaca. Macan merupakan simbol semangat juang para taruna. Karena itu, selain dijadikan sebagai obyek wisata bagi masyarakat umum, museum ini didirikan untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan patriot bagi taruna.
Lalu, ada ruang senjata. Pengunjung akan dibuat takjub dengan ruang tersebut karena menampilkan beragam senjata. Sertu Budiman menyebut, ada lebih dari 3.000 senjata. Mulai dari meriam, pistol, senjata laras panjang, senjata mesin berat, sembur api, dan lainnya.
Baca Juga: Tiga Ormas Islam Besar Datangi Mapolda, Sampaikan Keprihatinan Maraknya Gerai Miras di Wilayah DIY
Baca Juga: UAJY Rayakan Dies Natalis ke-59, Terus Komitmen pada Pengembangan SDM
Beberapa di antaranya merupakan hibah dari para pejabat TNI AD, termasuk Prabowo Subianto. Ada pula senjata hasil rampasan pada saat perang dunia II. Senjata-senjata tersebut menjadi penambah wawasan bagi pengunjung tentang perkembangan teknologi persenjataan, khususnya kepada para taruna Akmil.
Ada pula ruang Bhakti Taruna. Ruang tersebut didominasi foto para alumni yang gugur di medan bakti. Selain itu, tampak pula foto para alumni Akmil yang telah berprestasi dan memiliki pangkat tertinggi dalam kariernya sebagai perwira TNI AD. Utamanya yang berhasil menjadi pemimpin nasional.
Terakhir, ada ruang teater. Pengunjung dapat menonton perjuangan para TNI yang berjuang di medan bakti. "Setiap ruangan, memang di-setting ada multimedia untuk menceritakan kisah yang ada sebagai bentuk modernisasi," ujar Sertu Budiman.
Museum ini dibuka setiap hari. Untuk hari Senin - Jumat, dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Sementara untuk hari Sabtu - Minggu buka mulai pukul 08.00 - 15.00. Untuk tarif masuknya Rp 20 ribu per orang, sedangkan bagi rombongan dikenakan Rp 10 ribu per orang.
Siswa kelas 11 SMAN 1 Bandongan Amanda Wiji Lestari mengaku baru pertama kali berkunjung ke Museum Akmil Magelang. Karena itu, dia mengajak tiga temannya untuk berkunjung setelah pulang sekolah. "Penasaran dan akhirnya ke sini. Bagus, kami bisa tahu sejarah militer," lontarnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo